Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com

Produksi kakao 2014 ditargetkan mencapai 1,1 juta ton

Jakarta (ANTARA News) - Kementerian Pertanian (Kementan) menargetkan produksi kakao nasional pada 2014 mencapai 1,1 juta ton atau meningkat dari 2013 yang sebanyak 800 ribu ton.

Dirjen Perkebunan Kementan Gamal Nasir di Jakarta, Senin, mengatakan salah satu upaya peningkatan produksi tersebut yakni dengan melanjutkan program gerakan nasional peningkatan produksi dan mutu kakao (Gernas Kakao) pada 2014.
"Dengan pelaksanaan gernas kakao ini produksi kakao nasional didorong menjadi nomor dua di dunia dengan target sebesar 1,1 juta ton," katanya.

Gamal mengatakan program Gernas Kakao telah dilaksanakan pada 2009-2011 dengan kucuran anggaran sekitar Rp3 triliun serta cakupan areal 400 ribu hektare atau 27 persen dari luas perkebunan kakao 1,6 juta ha saat ini.Menurut dia, hasil produksi kakao yang diikutkan dalam program Gernas tersebut baru akan terlihat setelah empat tahun dari pelaksanannya, namun saat ini tanamannya sudah mulai berbuah.Dikatakannya, berdasarkan hasil pemantauan tim independen dari kalangan perguruan tinggi terhadap program Gernas Kakao dinyatakan hasilnya bagus, potensi peningkatan produksi luar biasa. "Mereka merekomendasikan Gernas Kakao ini perlu dilanjutkan pada tahun ini, apalagi dampaknya terhadap industri hilir kakao ikut berkembang," katanya.

Untuk itu, lanjutnya, pihaknya juga akan melakukan pembinaan petani ke daerah-daerah dengan alokasi anggaran sekitar Rp200 miliar.
Pada 2013 ekspor kakao Indonesia mencapai 295,9 ribu ton dengan nilai 794,8 juta dolar AS menurun dibandingkan tahun sebelumnya sebanyak 388,0 ribu ton senilai 1,05 miliar dolar AS pada 2012.


Dirjen Perkebunan menyatakan saat ini bahkan setiap dewan komoditas juga meminta dilakukan program Gernas terhadap komoditas perkebunan yang mereka bina. Sementara itu pada tahun ini pihaknya juga akan melakukan peremajaan tanaman karet seluas 12.335 ha atau naik dari 2013 yang seluas 10.385 ha.

 

Sumber : http://www.antaranews.com 6 Januari 2014

10 Fakta Menarik Tentang Kopi

Inilah 10 fakta menarik tentang kopi :

1.    Kopi Pertama Kali Ditemukan Oleh Kambing
Menurut legenda, seorang gembala di Etiopia terheran-heran menemukan gerombolan kambing ternaknya mendadak menjadi lincah dan hiperaktif sebagai efek kafein dari biji kopi yang kambing-kambing itu makan.


2.    Awalnya Kopi Dimakan, Bukan Diminum
Taukah jika awalnya kopi dikonsumsi sebagai makanan camilan oleh beberapa suku di Afrika. Mereka memakan biji kopi yang sudah dilumuri lemak hewan. Camilan itu diberi nama bola energi dan dilahap dengan anggur sebagai teman minumnya.


3.    Populer Berkat Kebangkitan Islam
Kabarnya, penyebaran agama Islam yang semakin luas memberi kontribusi pada kepopuleran kopi. Dalam pengajaran agama Islam, minuman beralkohol dilarang sehingga para penganut Islam pun beralih pada minuman non-alkohol dimana kopi sebagai salah satu minuman yang tidak dilarang.


4.    Kopi Dilarang di Inggris
Di tahun 1675, Raja Inggris menutup dan melarang rumah-rumah kopi karena dicurigai menjadi tempat pertemuan orang-orang yang merencanakan konspirasi melawannya.


5.    Ternyata Lebih Banyak Penikmat Kopi Jenis Arabica
Ternyata 70 persen penikmat kopi memilih menyerup kopi jenis Arabica yang rasanya lebih ringan tetapi lebih beraroma. Sedangkan 30 persen sisanya memilih menyeduh dan menikmati kopi dengan kopi jenis Robusta. Kopi Robusta memiliki rasa yang lebih pahit dan memiliki kadar kaffeine 50 persen lebih tinggi dibanding jenis kopi Arabica.


6.    Kopi adalah Komoditas KEDUA yang paling banyak diperdagangkan
Pertamanya, tentu saja minyak. Tampaknya penduduk di dunia sangat tertarik dengan cairan berwarna hitam. Dan, untuk menjadi cairan berwarna hitam itu tentu tidak semudah yang diperkirakan. Apalagi, biji kopi sebenarnya berwarna merah. Proses pembuatan kopi adalah sebagai berikut: biji dipetik, dikeringkan dan dikupas hingga yang tersisa biji berwarna hijau. Di dalam pabrik, biji kopi berwana hijau ini dipanggang dengan suhu hingga 260 derajat celcius hingga meletus (seperti popcorn). Kemudian dipanggang sekali lagi dengan panas bersuhu yang sama hingga meletus lagi. Setelah melewati proses kedua ini, biji kopi menjadi warna hitam dan siap untuk digerus menjadi bubuk kopi dan diseduh menjadi cairan hitam yang sekarang dikenal dengan nama kopi tersebut.


7.    Benarkan George Washington yang Menciptakan Kopi Instan?
Jangan sampai terkecoh. Bukan George Washington, presiden pertama Amerika Serikat. Melainkan seorang warga Belgia bernama sama yang saat tinggal di Guatemala mencoba menciptakan kopi instan dan mencoba mengkomersialisasikan setahun kemudia ketika hijrah ke Amerika. George Washington menciptakan kopi instan di tahun 1906.


8.    Apa bedanya Espresso dengan minuman kopi lainnya?
Banyak yang beranggapan espresso (cara bacanya: e – spres –oh) adalah jenis biji atau campuran minuman. Padahal espresso adalah cara bagaimana kopi disiapkan. Kopi dipadatkan pada wadah bulat, kemudian ditekan sambil ditembakan air panas bersuhu 95 derajat. Tetesan kopi inilah yang disebut espreso.

Dari espreso inilah kemudian dilakukan pencampuran dengan berbagai macam minuman lainnya seperti susu, sirup coklat, busa atau whipped cream menghasilkan minuman seperti Cafe Latte, Mocha, dan Cappucino.


9.    Darimana asal muasal nama minuman Americano?
Istilah Americano muncul tentara GI Amerika ketika perang dunia kedua yang sering memesan kopi espresso yang dicampur dengan air yang lebih banyak untuk melarutkan rasa yang terlalu keras. Dari sini juga muncul istilah bahasa Inggris a cup of Joes yang muncul untuk memberi nama tentara Amerika yang peminum berat kopi.


10.     Mengapa Kafein Membuat Kita Susah Tidur?
Di dalam otak ada yang dinamakan Adenosine dimana jika bertemu dengan beberapa penerima Adenosine ini akan membuat kita mengantuk. Ketika kafein masuk ke tubuh kita, ia menempel pada penerima Adenosine ini dan menolak Adenosine. Ketika kelenjar di bawah otak melihat ini, maka ia akan beraksi untuk meminta kelenjar adrenal mengeluarkan adrenaline. Selain itu, kafein juga menaikkan level dopamine. Jika sudah itu, rasa kantuk pun terusir karena metabolisme tubuh kita kembali aktif.


(The Oatmeal)

Sumber : Syanne Susita - https://abraresto.com

Kunjungan Lapangan Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian

Pada Tanggal 7 Maret 2014 Balittri menerima kunjungan lapangan dari Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian yang sedang melakukan Rapim B untuk meninjau kegiatan paket inovasi teknologi terpadu yaitu pengolahan Bioindustri dan pengolahan Bahan Bakar Nabati. Rombongan yang dipimpin Kepala Badan SDM Pertanian yaitu Dr. Ir. Winny Dian Wibawa, M.Sc. diterima langsung oleh Kepala Balai Penelitian Tanaman Industri dan Penyegar Dr. Ir. Rubiyo, M.Si.


Kepala Badan SDM Pertanian yaitu Dr. Ir. Winny Dian Wibawa, M.Sc mencoba langsung biodiesel untuk digunakan pada kendaraan bus yang ditumpangi rombongan BBSDMP

 

Gapkindo: Pemangkasan Ekspor Karet Terus Dilakukan 2014

Medan (Antara)- Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) menegaskan Indonesia dan negara produsen karet alam lainnya pada 2014 sepakat tetap melakukan pemangkasan produksi dan ekspor untuk mengangkat harga jual yang dikhawatirkan bisa melemah menyusul permintaan yang sedikit. "Pemangkasan produksi dan ekspor dilakukan karena adanya perhitungan bahwa permintaan tren melemah di tengah produksi di negara produsen seperti India dan Vietnam yang tetap bertumbuh dan bahkan dengan jumlah yang tinggi," kata Sekretaris Eksekutif Gapkindo Sumut, Edy Irwansyah di Medan, Selasa. Melemahnya permintaan karet, tambahnya, karena pertumbuhan ekonomi di negara konsumen utama karet alam juga diprediksi masih melambat pada tahun 2014. "Dengan pemangkasan khususnya pada sektor ekspor yang benar-benar dilaksanakan negara produsen, diharapkan harga bisa naik meski dengan harga relatif murah," katanya.

Harga SIR 20 di pasar bursa Singapura pada tanggal 30 Desember 2013 untuk pengapalan Januari 2014 ditutup 2,268 dolar AS per kg atau turun dari harga tanggal 27 yang sempat mencapai 2, 295 dolar AS. Ekspor Sumut sendiri pada tahun depan diyakini masih ke pasar tradisional yakni Jepang, China, Amerika Serikat , Korea Selatan dan Brazil. Adapun ekspor Sumut terbesar atau 97 persen dalam bentuk SIR. "Meski dipangkas, tetapi ekspor karet tahun 2014 diprediksi naik sebesar empat persen dari tahun 2013,"katanya. Angka sementara ekspor karet Sumut tahun 2013 sejumlah 460.573 ton dari total kapasitas pabrik yang sebesar 805.000 ton. (ar)

sumber : http://www.antaranews.com/

Alternatif Tanaman Penghasil Biodiesel Ada di Sukabumi

Wakil Menteri ESDM Susilo Siswoutomo, Dirjen Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Rida Mulyana, Kepala Litbang Kementerian Pertanian Haryono hingga Direktur Utama PLN Nur Pamudji ramai-ramai meninjau Balai Penelitian Tanaman Industri dan Penyegar (Balittri) Pakuwon, Sukabumi, Jawa Barat.

Tujuan para pejabat tersebut untuk membahas kelanjutan pemanfaatan lahan eks lahan pertambangan untuk menghasilkan bahan baku biodisel dengan memanfaatkan hasil litbang terkait kemiri sunan.

"Kemiri Sunan ini salah satu tanaman yang bisa menghasilkan biodiesel, sehingga bisa mendampingi CPO (crude palm oil) atau kelapa sawit, untuk diperuntukkan sebagai bahan bakar kendaraan," ujar Dirjen EBTKE Rida Mulyana ditemui Balittri Pakuwon, Sukabumi, Minggu (9/2/2014).

Balai Penelitian Tanaman Industri dan Penyegar (Balittri) merupakan lembaga penelitian yang membantu meningkatkan produktivitas dan daya saing komoditas tanaman industri dan penyegar salah satunya adalah tanaman kemiri sunan. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Balittri, rendemen Biodiesel dari minyak kemiri sunan mencapai 88%, dengan spesifikasi teknis memenuhi standar SNI Biodiesel.

Progres kerjasama pengembangan kemiri sunan di daerah pertambangan antaralain kerja sama Kementerian Pertanian dengan PT Timah, Pemerintah Kabupaten Boyolali, Kabupaten Bangka Selatan, dan Kabupaten Belitung Timur untuk pengembangan kemiri sunan di wilayah tersebut.

Kementerian ESDM akan mendukung pengembangan fasilitas produksi biji kemiri sunan menjadi Bahan Bakar Nabati. Arahan Presiden SBY agar meningkatkan pemanfaatan biodiesel diatas 10% menjadi dorongan agar implementasi 2014 bisa tercapai dengan maksimal, sambil mencari peluang pemanfaatan biodiesel di atas 10% seperti yang sekarang berjalan di PT PLN (Persero).

Sumber : www.detik.com

Kunjungan Kerja Wamen ESDM Ke Balittri Dalam Rangka meninjau Alternatif Tanaman Penghasil Biodiesel

Pada hari Minggu, 09 Februari 2014, Balai Penelitian Tanaman Industri dan Penyegar menerima kunjungan kerja dari  Wakil Menteri Energi dan SumberDaya Mineral (ESDM),Susilo Siswoutomo, didampingi oleh Dirjen Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Rida Mulyana bersama dengan perwakilan dari R20-Regions of Climate Action. (R20-Regions of Climate Action merupakan organisasi non-profit yang didirikan tahun 2010 oleh Gubernur Arnold Schwarzenegger dan pemimping global lainnya, bekerja sama dengan United Nations. Organisasi ini beranggotakan negara-negara di Afrika, Asia Pasifik, Amerika Utara, dan Amerika Selatan ini memiliki misi membantu pemerintah lokal diseluruh dunia dalam meningkatkan dan menguatkan ekonomi berbasis low carbon, dengan cara mensinergikan antara aparatur, teknologi, dan keuangan untuk menciptakan program low carbon yang berkelanjutan. Kunjungan ini berkaitan dengan adanya program pemanfaatan kemiri sunan (Reutealistrisperma).

Pertemuan diawali dengan sambutan selamat datang dari Kepala Balitbangtan, Dr. Haryono. Kepala Balitbangtan menyampaikan  terima kasih dan selamat datang kepada Bapak Wamen ESDM dan para undangan yang  telah berkenan menyelenggarakan temu lapang kemiri sunan ini di salah satu UPT Balitbangtan. Kemudian acara dilanjutkan dengan pemaparan perkembangan penelitian Kemiri Sunan yang telah dilakukan oleh Kepala Pusat Penelitian Perkebunan, Dr. M. Syakir, yang berjudul “Penyediaan Bahan Baku Bioenergi Mendukung Ketahanan Energi Nasional”.
Dalam penjelasannya, Pelaksanaan InpresNo 1/2006 oleh Kementerian Pertanian meliputi penyediaan benih unggul, pembuatan peta kesesuaian lahan, penyediaan teknologi on farm, penyediaan teknologi pengolahan dan media penyuluhan dan pelatihan. Dalam perkembangannya, perkembangan bahan baku bioenergi dibagi menjadi beberapa tahap, yaitu program jangka pendek yang meliputi Pengembangan/intensifikasi komoditas yang sudah ditanam secara luas : kelapa sawit, kelapa, tebu, sagu, ubi kayu; program jangka menengah Pengkajian dan pengembangan komoditas potensial penghasil bioenergi : kemiri sunan, jarak pagar,  nyamplung , aren, nipah; program jangka panjang meliputi pemanfaatanbiomassalimbahpertanian (generasikedua). Dalam rangka pengembangan program pemenuhan kebutuhan bahan baku bioenergi jangka menengah, dilakukan pengembagan tanaman potensial, salah satunya adalah tanaman Kemiri Sunan (Reutealistrisperma(Blanco) Airy Shaw).

Tanaman ini merupakan tanaman konservasi dengan daun lebat, perakaran dalam dan kuat (menahan erosi) dan daya adaptasi luas (100-800 m dpl,  curah hujan 1000 - 2500 mm/th). Tanaman ini sangat tepat untuk konservasi (termasuk konservasi lahan bekas tambang), lahan kritis, dan reforesting. Berdasarkan penelitian, produktivitas kemiri sunan lebih baik dari tanaman penghasil minyak nabati lainnya seperti sawit, jarak pagar atau nyamplung. Produktivitas biji: 50 - 300 kg/pohon/thn (sesuai umur), dan akan menghasilkan rendeman minyak kasar: 52 % dari kernel. Rendemen biodiesel yang dihasilkan adalah 88 % dari minyak kasar, dan sisanya berupa gliserol.

Acara dilanjutkan Sambutan oleh Wamen ESDM. Susilo mencatat, Indonesia berpotensi mengimpor minyak mentah, solar dan BBM sekitar 800 ribu-900 ribu barel per hari,dannilaiimpornyabisamenyentuhsekitar US$ 120 juta per hari (denganasumsihargaminyak US$ 120 per barel. Jumlah impor akan terus meningkat tiap tahunnya seiring dengan makin tumbuhnya perekonomian Indonesia. Termasuk bertambahnya kendaraan di Indonesia seperti motor dan mobil.Nilai tersebut adalah tahun 2014, jika tahun 2020, impor BBM paling tidak 2 juta barel perhati dan membutuhkan US$ 250 juta per hari (Rp 2,5 triliun).Oleh karena itu Wamen ESDM berkata “Masa depan Indonesia, itu Biodiesel”. Wamen ESDM berharap pertumbuhan kebutuhan BBM dapat dipenuhi dari biodiesel.
Kemudian acara dilanjutkan kunjungan ke Kebun Percobaan Pakuwon untuk melihat pertamanan kemiri sunan, cara pengolahan kemiri sunan menjadi bahan bakar nabati, serta berbagai pemanfaatan kemiri sunan seperti briket kemiri sunan, pupuk hayati dan sabun mandi.
 

Kunjungan Kerja Staf Ahli Menteri Pertanian Ke Balittri Mengenai Bioindustri dan BBN

Pada Tanggal 23 Januari 2014 Balittri kedatangan Staf Ahli Menteri Pertanian untuk meninjau kegiatan paket inovasi teknologi terpadu yaitu pengolahan Bioindustri dan pengolahan Bahan Bakar Nabati. Rombongan yang didampingi Kepala Pusat Penelitian Dan Pengembangan Perkebunan Dr. M. Syakir, MS diterima langsung oleh Kepala Balai Penelitian Tanaman Industri dan Penyegar Dr. Ir. Rubiyo, M.Si. 

Salah satu staf ahli menteri Pertanian Bidang Kebijakan Pembangunan Pertanian Prof.Dr.Ir. Pantjar Simatupang melihat langsung proses pengolahan biji kakao menjadi cokelat.


Selain itu Rombongan staf ahli Menteri Pertanian juga mengunjungi Instalasi pengolahan Bahan Bakar Nabati Di Kebun Percobaan Pakuwon Balittri



Kopi dan Kakao Dianggap Cocok untuk Jawa Timur

Surabaya - Direktur Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia, Teguh Wahyudi, mengatakan kopi dan kakao merupakan komoditas perkebunan yang paling dibutuhkan untuk mendukung keberadaan jalur lintas selatan Provinsi Jawa Timur. Jalur lintas selatan Jawa Timur memanjang sejauh 634,11 kilometer melintasi delapan kabupaten/kota, terbentang dari Banyuwangi hingga Pacitan.

Teguh mengingatkan permintaan kopi dan kakao, baik di pasar domestik maupun internasional, selalu meningkat seiring pertambahan jumlah penduduk. "Dua komoditas perkebunan ini masih prospek dan stabil pada masa mendatang. Saya mendorong sepanjang jalur lintas selatan agar dijadikan kebun kopi dan kakao," kata Teguh di sela-sela lokakarya Pengembangan Ekonomi Jalur Lintas Selatan Jawa Timur Berbasis Kopi dan Kakao di Surabaya, Rabu, 30 Oktober 2013 

Menurut dia, Indonesia sudah dikenal sebagai salah satu produsen utama dunia untuk biji kopi dan kakao. Kebun kopi dan kakao di Jawa Timur, kata dia, termasuk salah satu wilayah yang memiliki peran penting dalam memenuhi suplai bahan baku biji kopi dan kakao bagi industri.

Pemerintah, kata dia, wajib memaksimalkan komoditas hasil bumi dengan menyesuaikan potensi alam di sepanjang jalur selatan. Ia yakin pengembangan kopi dan kakao memiliki nilai ekonomis, ekologi, sekaligus memberdayakan masyarakat desa di sepanjang jalur tersebut. "Wilayah jalur lintas selatan memiliki tipologi agroekosistem yang cocok untuk kedua komoditas tersebut," katanya.

 

Sumber : www.tempo.co

Produksi Kakao Masuk Zona Kuning

Jakarta - Ketua Umum Asosiasi Kakao Indonesia (Askindo) Zulhefi Sikumbang menyatakan, 400 ribu ton biji kakao siap diolah untuk industri setengah jadi. "Tahun ini akan naik 400 ribu ton biji kakao yang siap diolah," kata Zulhefi, Senin, 13 Januari 2014, di kantor Kementerian Perindustrian, Jakarta.

Sebelumnya, pada 2010, Indonesia lebih banyak mengekspor biji kakao. Tapi karena ada program hilirisasi sejak April 2010 melalui pajak ekspor biji kakao, saat ini industri setengah jadi meningkat luar biasa. Sebelum ada program tersebut, biji kakao yang diolah hanya 125 ribu ton. Tahun lalu, angkanya melonjak hingga 350 ribu ton yang diolah di dalam negeri.

Namun, kata Zulhefi, produksi biji kakao hanya 450 ribu ton. "Ini sudah lampu kuning padahal kapasits industri 600 ribu ton. Jadi kalau jalan semua bahannya cuma 450 ribu ton, tentu kita kekurangan," kata Zulhefi.

Nah, untuk meningkatkan produksi biji kakao ini dibutuhkan tenaga penyuluh petani untuk mengajarkan cara merawat tanaman kakao yang bagus sehingga produksi bisa naik 2 kali lipat. Kuncinya, kata Zulhefi, memangkas dan merawat tanaman kakao sesuai standar. Selama ini kedua hal itu kurang dilakukan.

Zulhefi menuturkan jika program penyuluhan ini berjalan, diperkirakan produksi kakao bisa melonjak 700 - 800 ribu ton. Bila produksi kakao mampu mencapai angka tersebut, industri kakao akan aman sehingga tidak mengganggu bahan baku.

Sumber : www.tempo.co

http://www.tempo.co/read/news/2014/01/13/092544494/Produksi-Kakao-Masuk-Zona-Kuning

Kopi RI Harus Jadi Tuan Rumah di Negeri Sendiri

Jakarta - Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal Helmy Faishal Zaini mengatakan, kopi yang ditanam petani di daerah tertinggal tidak kalah kualitas dan cita rasanya dengan kopi produk luar negeri. Bahkan sebagai produk unggulan, kopi dari banyak daerah di Indonesia sudah diakui sebagai salah satu kopi terbaik dunia.

"Ada satu kopi yang terkenal dari kabupaten Bener Meriah. Namanya kopi Berghendel. Beberapa kedai kopi dengan merek ngetop di Amerika mengambil pasokan kopi dari sini,” kata Helmy Faishal usai membuka stand “Roemah Kopi Nusantara Daerah Tertinggal” di ajang Agri& Agro Festival di TMII Jakarta, Jumat (29/11/2013).

Menurutnya, banyak daerah di Indonesia merupakan penghasil kopi kualitas tinggi yang bahkan sudah mengekspor hasil produksinya ke negara-negara besar di Eropa dan Amerika. Namun meski sudah mendunia, patut disayangkan karena justru di dalam negeri sendiri belum banyak yang mengenal.

Stand “Roemah Kopi Nusantara” sengaja dibuat khusus untuk mempromosikan kopi-kopi Indonesia agar lebih dikenal baik di dalam negeri maupun dunia internasional. Dari keseluruhan 32 kabupaten penghasil kopi, sedikitnya 20 kabupaten kategori tertinggal turut memamerkan produk kopi unggulan mereka. Ada kabupaten Toraja Utara dengan andalan kopi Torajanya, kabupaten Gayo Lues dengan kopi Tanah gayonya, dan kabupaten Bondowoso dengan Kopi Luwaknya.

“Dengan kampanye seperti ini kita ingin menjadikan kopi Indonesia tuan rumah di negeri sendiri. Ini penting demi kemajuan kopi Indonesia, demi kesejahteraan petaninya, dan kebanggaan kita semua tentunya,” terang Helmy.

Menteri termuda di Kabinet Indonesia Bersatu II ini mengaku, sebagai pecinta kopi sudah banyak mengoleksi kopi-kopi dari daerah tertinggal. Di ruang koleksi di kediamannya, puluhan jenis kopi lengkap dengan mesin peracik kopi bisa dengan mudah ditemui. Menurutnya, ini adalah bagian dari sebuah eksplorasi untuk mendalami kekayaan cita rasa kopi.

“Terus terang setiap kunjungan ke daerah saya selalu menyempatkan diri untuk menikmati kopi unggulan setempat,” terang menteri ‘home barista’ ini.

Kopi, jelas Helmy, adalah salah satu produk unggulan yang masuk dalam program percepatan pembangunan daerah tertinggal. Kementerian PDT sudah melakukan berbagai intervensi program untuk mengembangkan produksi kopi di daerah tertinggal.

Tak cukup dengan bantuan langsung, Kementerian PDT pun melakukan berbagai koordinasi dengan koleganya di kementerian terkait. Secara nasional, kopi kini menempati urutan ke-6 pemacu pertumbuhan ekonomi setelah garmen.

 

Sumber : inilah.com

Balittri Mengikuti Pekan Pertanian Spesifik Lokasi (PPSL) II di Kendari

Balittri mengikuti kegiatan Pekan Pertanian Spesifik Lokasi yang ke 2 di Kendari Sulawesi Tenggara, Kegiatan ini dibuka oleh Wakil menteri Pertanian Rusman Heriawan, dalam sambutannya mengatakan "kekhawatiran akan anjloknya pertumbuhan produksi pangan, mendorong pemerintah menjadikan ketahanan pangan nasional sebagai salah satu agenda prioritas". PPSL diadakan selama lima hari di kendari diharapakan bisa menjadi wahana apresiasi terhadap seluruh pelaku dan stakeholder pembangunan pertanian untuk bersinergi membangun pangan berkelanjutan.

Sulawesi Tenggara dengan luas wilayah 3.814.000 Ha terdiri dari wilayah daratan dan kepulauan kemudian Sultra termasuk 3 besar provinsi penghasil Kakao di Indonesia. Peran inovasi teknologi dalam peningkatan produktivitas pertanian sangatlah penting, namun harus dilihat juga dari segi ekonomis dan syarat teknisnya. Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementerian Pertanian, Dr. Haryono, mengatakan, keberanekaragaman pertanian spesifik lokasi merupakan poteni dalam percepatan target pembangunan pertanian nasional sebagaimana ditetapkan MP3EI. untuk menggali potensi teresbut, dukungan penerapan teknologi yang spesifik lokasi sangat menentukan\

"Dengan PPSL akan mengkomunikasikan hasil-hasil inovasi teknologi pertanian dalam memperkuat ketahanan pangan. termasuk pembelajaran berbasis agroekosistem juga menunmbuhkembangkan apresiasi dan minat generasi muda bidang pertanian" sebut Kepala Badan Litbang Pertanian. Kegiatan PPSL ini  terdiri juga dari pameran-pameran, seminar dan workshop, ada juga Model kawasan Rumah Pangan Lestari yang sebelumnya telah dikembangkan Badan Litbang Pertanian

Pelatihan Petani Kakao Kabupaten Karimun Prov. Kepri di Balittri

Pada tanggal 12 - 16 November 2013 Balittri bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Karimun Provinsi Kepulauan Riau khususnya Dinas Kehutanan dan Perkebunan mengadakan pelatihan Petani Kakao, dengan materi mengenai teknik Budidaya, hama dan penyakit hingga pasca panen. Acara pelatihan ini sendiri juga dihadiri oleh Kepala DPRD Kabputan Karimun

Ekspo Nasional Inovasi Perkebunan (ENIP) 2013

Ekspo Nasional Inovasi Perkebunan (ENIP) kembali digelar pada 30 Agustus – 1 September 2013 di Jakarta Convention Center. Ekspo yang mengambil tema “Perkebunan Sebagai Pilar Strategi Green Economy Nasional” ini dibuka oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Radjasa yang didampingi oleh Wakil Menteri Pertanian Dr. Rusman Heriawan dan Kepala Badan Litbang Pertanian yang diwakili oleh Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan Dr. M. Syakir.

Dalam sambutannya, Menko Perekonomian mengatakan bahwa tema yang diangkat dalam ENIP kali ini sangat relevan dengan tuntutan peradaban saat ini. Menurutnya green economy merupakan salah satu kata kunci dalam menghadapi pembangunan masa depan.

Hatta Rajasa juga menambahkan bahwa inovasi merupakan faktor yang sangat penting dalam peningkatan nilai tambah dan daya saing pertanian khususnya perkebunan di Indonesia.

Indonesia sebagai negara penghasil berbagai komoditas perkebunan yang telah diakui dunia dianggap mempunyai berbagai keunggulan komparatif yang bisa lebih dikembangkan. "Keunggulan komparatif yang telah kita miliki haruslah didorong menjadi keunggulan kompetitif dengan pendekatan inovasi” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut juga diserahkan Anugerah Inovasi Perkebunan kepada pemerintah daerah, swasta dan petani serta pemberian bantuan bibit kepada petani terpilih.

Seusai membuka acara, Menko Perekonomian bersama Wakil Menteri Pertanian berkesempatan untuk meninjau pameran yang menampilkan berbagai produk dan inovasi bidang perkebunan, baik dari instansi pemerintah maupun swasta.

Badan Litbang Pertanian menampilkan berbagai hasil inovasi teknologinya yang mendukung tema ekspo, seperti sistem pertanaman jeruk diantara kopi, aneka varietas kopi, kakao dan kenaf, mesin pemotong bibit tebu, sistem juring ganda yang mampu meningkatkan produktivitas tebu dan berbagai hasil inovasi pertanian lainnya. Selain Pameran, kegiatan ENIP selama tiga hari diisi dengan talk show, dialog nasional, konsultasi inovasi publik, demo interaktif produk dan inovasi perkebunan, wisata edukasi, hiburan, dan door prize.

Seminar Nasional Inovasi Teknologi Kopi

Kopi merupakan salah satu komoditas andalan perkebunan penghasil devisa negara, sumber pendapatan petani, penghasil bahan baku industri, penciptaan lapangan kerja, dan pengembangan wilayah. Indonesia merupakan negara penghasil kopi terbesar di Asia Tenggara dan terbesar ketiga di dunia setelah Brazil dan Vietnam.

Pada beberapa tahun terakhir berkembang isu-isu yang terkait dengan upaya untuk mengamankan kesinambungan ekonomi kopi dunia. Negara-negara yang menjadi pasar utama kopi menginginkan kualitas kopi yang sesuai dengan tuntutan konsumen seperti keamanan pangan, pelestarian lingkungan serta peningkatan kesejahteraan petani dan nilai sosial lainnya. Isu ini juga tidak terlepas dari tren yang berkembang, bahkan telah menjadi salah satu ideologi ekonomi dunia yaitu green economy.

Pendekatan green economy menjamin terpeliharanya hubungan timbal balik antara pembangunan ekonomi dan keberlanjutan fungsi lingkungan dalam mendukung terwujudnya pembangunan yang berkelanjutan. Pengadopsian konsep green economy dalam agribisnis kopi selain dapat menjaga keberlanjutan dan meningkatkan daya saing agribisnis kopi di Indonesia, juga merupakan jawaban atas berbagai tuntutan dari pihak konsumen.

Sebagai salah satu upaya mempercepat difusi inovasi teknologi kopi kepada pemangku kepentingan mendukung green economy nasional, Badan Litbang Pertanian menyelenggarakan Seminar Nasional Inovasi Teknologi Kopi di Bogor (28/8/2013) dengan tema “ Penguatan Peran Inovasi Teknologi Kopi Menuju Green Economy Nasional”. Kegiatan tersebut juga merupakan salah satu rangkaian dari kegiatan Ekspo Nasional Inovasi Perkebunan (ENIP) yang puncaknya akan digelar di Jakarta Convention Center (JCC) pada hari Jumat (30/8/2013).

Kepala Badan Litbang Pertanian dalam sambutan sekaligus keynote speech yang dibacakan oleh Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan, Dr. M. Syakir mengatakan bahwa inovasi teknologi yang dihasilkan dari kegiatan penelitian merupakan jawaban dari berbagai isu yang terkait dengan green economy. “Inovasi teknologi berperan dalam mendorong peningkatan efisiensi produksi dan pemasaran, peningkatan mutu produk sesuai dengan tuntutan konsumen, peningkatan pendapatan petani serta pelestarian lingkungan sehingga terbangun system agribisnis kopi yang berkelanjutan” ujarnya.

Beliau menambahkan bahwa inovasi yang telah tersedia untuk pengembangan green economy meliputi penyediaan bahan tanaman (varietas) unggul, budidaya ramah lingkungan dan pengolahan berlandaskan pada kaidah keamanan pangan. Varietas unggul yang sudah banyak diadopsi adalah varietas kopi S-795 yang tahan terhadap cekaman lingkungan dan penyakit karat daun, dengan budidaya ramah lingkungan yang diarahkan pada penggunaan pupuk organik, biopestisida dan budidaya berbasis konservasi tanah dan air, serta penerapan Good Handling Practices (GHP) pada pengolahannya yang dapat menghilangkan cemaran residu. “Diharapkan melalui seminar ini dapat menguatkan peran inovasi teknologi sebagai unsur utama peningkatan daya saing yang perlu dikembangkan secara luas kepada pengguna agar dapat diadopsi untuk menghasilkan produk yang mampu menciptakan preferensi pasar global dan mendukung pencapaian green economy” tutupnya

Dalam kesempatan tersebut juga dilaksanakan penandatanganan Naskah Kerjasama antara Badan Litbang Pertanian dengan Kabupaten Meranti, Kabupaten Karimun, PT. Tambi, PT. Bumi Loka dan KSR (Kopi Garut).

Wakil Menteri Pertanian Mengunjungi Balittri

Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Dr. Rusman Heriawan mengunjungi Balai Penelitian Tanaman Industri dan Penyegar (Balittri), Badan Litbang Pertanian di Pakuwon Sukabumi, Jawa Barat, Selasa (29/10/2013), kunjungan itu merupakan tindak lanjut dari kunjungan beliau sebelumnya terutama mengenai sumber energi alternatif bahan bakan nabati

Dalam kunjungan tersebut, Wamentan dan rombongan meninjau Kebun Percobaan Pakuwon dan berdiskusi seputar bahan bakar nabati (BBN) seperti biodiesel dari tanaman kemiri sunan (Reutealis trisperma). Tidak hanya itu, komoditas lainnya yang menjadi mandat Balittri seperti kopi, kakao, dan karet tidak luput dari perhatian.

Wamentan mengharapkan bahwa komoditas yang ada merupakan show window sehingga perlu terus dipelihara dan dikembangkan, termasuk komoditas yang bukan mandat penelitian Balittri, seperti kemiri sunan. Hal ini, menurut Wamentan, adalah untuk menunjukkan prestasi kerja yang maksimal dan memelihara aset hasil penelitian, tidak dibatasi oleh tupoksi.

Program kegiatan yang tidak cermat tanpa memperhitungkan kemampuan petani, dapat berakibat tidak tercapainya sasaran. Di samping itu perlu ada evaluasi terhadap perbandingan jumlah inovasi teknologi yang telah dihasilkan dan jumlah inovasi teknologi tersebut yang digunakan oleh masyarakat.

Dalam akhir arahannya, Wamentan senantiasa mengajak para peneliti untuk terus bekerja pantang menyerah dan meningkatkan kemampuannya.  Jika hal ini berhasil, maka indeks penilaian kinerja diharapkan juga meningkat. “Jangan melakukan pekerjaan yang sia sia, tapi lakukanlah kegiatan yang menghasilkan sesuatu yang dapat diimplementasikan oleh masyarakat,” ujar Wamentan.

Asosiasi Produsen Kopi Bantah Menyiksa Luwak

TEMPO.CO, Bener Meriah - Ketua Asosiasi Produsen Kopi Fair Trade Indonesia mengatakan tidak semua petani atau penghasil kopi luwak di Dataran Tinggi Gayo menyiksa binatang luwak sebagaimana dituduhkan.

"Produser Fair Trade Indonesia menawarkan kopi organik dan kopi luwak liar, bukan tangkaran," ujar Mustawalad, Ketua Asosiasi Produser Kopi Fair Trade Indonesia.

BBC melansir hasil investigasi mereka di pusat perkebunan kopi di Takengon, Aceh, Sidikalang dan perusahaan pengekspor kopi luwak di Medan, Sumatera Utara. Dari hasil investigasi itu, mereka menemukan bahwa kopi luwak yang dijual dengan promosi dihasilkan dari musang liar itu ternyata merupakan musang yang diternakkan. Menurut mereka, kondisi kandang musang itu amat memprihatinkan dan kotor.

Mustawalad tidak menafikan dari petani kopi ada yang mengkandangkan musang. "Tapi tidak semua sangkar musang dengan kondisi sempit dan buruk."

Ia memberi contoh, di Desa Hutapea Bener Meriah ada 70 ekor musang. Kandangnya berukuran lebar 1 meter, tinggi 1,5 meter, dan bersih. Musang juga diberikan makanan aneka buah, seperti apel dan pisang.

Dia menambahkan, saat melakukan pengecekan ke tempat itu, ia tidak menemukan luwak dalam kondisi terluka. "Kalau disangkarkan, ya musang tidak sebebas di alam, itu pasti."

Menurut Mustawalad, Asosiasi Produser Kopi Fair Trade Indonesia menampung 23 ribu petani kopi organik yang tersebar di Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah. Mereka memproduksi kopi biasa dan kopi luwak. "Tetapi produk kami hanya kopi luwak alam atau liar," katanya menjamin.

Ia menyatakan, masalah tudingan BBC ini akan dibicarakan dengan para petani anggota asosiasi. "Tudingan itu tidak boleh disamaratakan untuk seluruh produksi kopi dari Aceh Tengah dan Bener Meriah. Ini sangat merugikan kami," ujarnya.

 

Sumber : tempo.co

Kopi-kopi Termahal di Dunia

New York : Kenikmatan secangkir kopi bagi penikmatnya tak tergantikan dengan apapun. Minuman yang berasal dari biji ini bisa dinikmati kala santai maupun pada acara-acara resmi.

Minat yang sedemikian besar terhadap minuman ini, membuat banyak usaha minuman kopi berdiri. Mulai dari kedai biasa hingga kafe berkelas.

Bahan baku biji kopi pun beraneka ragam. Kondisi tanah, bibit menjadi penentu kenikmatan secangkir kopi. Tumbuhan ini pun banyak dipelihara negara-negara terutama yang beriklim tropis. Indonesia termasuk negara yang menjadi produsen kopi dunia.

Bahkan, kopi termahal di dunia berasal dari Indonesia. Kopi luwak namanya. Selain Indonesia masih ada negara lain yang menjadi penghasil kopi termahal di dunia.

Mengutip laman the richest.org, berikut 10 kopi termahal di dunia dan negara asalnya, Sabtu (20/7/2013):

1. Kopi Luwak dari Indonesia

Kopi Luwak, layak menempati posisi nomor satu dari 10 kopi termahal di dunia. Bukan hanya karena harga yang sangat mahal, tetapi proses produksinya yang tidak umum.

Keunikannya terletak, selain berasal dari biji kopi tapi juga telah dikonsumsi hewan yang bernama luwak. Sebelum dapat diproduksi, biji kopi harus terlebih dahulu melewati sistem pencernaan luwak.

Dari sana, produksi dapat dimulai. Harga kopi  ini sangat mahal, mencapai US$ 160 per pon, dan menjadi yang paling ekstrim di seluruh dunia.

Di Amerika Serikat, Anda akan menemukan sebuah kedai kopi yang menjual kopi luwak. Coba saja cicipi, dijamin Anda mungkin tidak akan menemukan jenis lain dari kopi mahal selain Kopi Luwak.

2. Kopi Hacienda La Esmeralda dari Boquete, Panama

Hacienda La Esmeralda merupakan kopi yang ditanam khusus di Boquete, Panama. Penikmat kopi di dunia menyukai  kopi jenis ini karena rasanya yang unik.

Kopi ini sebagian besar dibudidayakan di bawah pohon jambu tua. Jika Anda ingin dapat mencoba La Esmeralda kopi Hacienda, bersiaplah untuk membayar minimal US$ 104 per pon.

3. Kopi Pulau St Helena dari St Helena

Pulau St Helena terletak sekitar 1.200 kilometer dari pantai Afrika. Di wilayah ini Anda akan menemukan budidaya kopi St Helena.

Popularitas kopi ini terangkat berkat Napoleon Bonaparte, yang mengenalkan dan menaburkan sendiri benih kopi ini di Pulau St Helena.  Jika Anda mampu merogoh kocek US$ 79 per pon untuk secangkir kopi ini maka nikmatilah.

4. Kopi El Injerto dari Huehuetenango, Guatemala

El Injerto adalah jenis kopi yang berasal dari Huehuetenango, wilayah Guatemala. Pada tahun 2006, kopi ini berhasil menyabet Piala Excellence of Grand Prize.

Kopi El Injerto, meskipun hanya masuk daftar keempat sebagai kopi termahal di dunia, namun Anda tetap harus mengeluarkan uang harga yang besar untuk mencicipi rasanya, yakni sebesar US$ 50 per pon.

5. Kopi Fazenda Santa Ines dari Minas Gerais, Brasil

Untuk harga sekitar $ 50 per pon, kopi Fazenda Santa Ines masuk sebagai salah satu produk kopi termahal di seluruh dunia.

Kopi ini diproduksi dari Brasil, khususnya daerah bernama Minas Geraiz, di mana tanaman ini tumbuh, dibesarkan, dan dibudidayakan.

Pertanian yang memproduksi kopi Fazenda Santa Ines cukup mengesankan, karena kopi ini masih tumbuh dengan cara tradisional.

Tidak ada proses otomatis apapun yang terlibat. Ketika diminta untuk menggambarkan bagaimana rasanya, orang secara otomatis akan mengatakan kopi ini terasa seperti manisnya buah dan karamel.

6. Kopi Blue Mountain dari Wallenford Estate, Jamaika

Kopi The Blue Mountain, sesuai namanya tumbuh di pegunungan Blue Jamaika. Kopi ini dikenal karena tingkat kepahitan yang rendah dan ringan rasanya.

Selama dekade terakhir, kopi mampu mengembangkan reputasinya sebagai salah satu komoditas yang paling dicari, meskipun sangat mahal di dunia.

Lebih dari 80% kopi ini diekspor ke Jepang. Jika Anda mau mengeluarkan US$ 49 per pon, Anda bisa menikmati secangkir kopi Blue Mountain.

7. Kopi Los Planes dari Citala, El Salvador

Los Planes adalah jenis kopi yang ditanam di Citala, El Salvador. Pada Piala Excellence of Grand Prize pada 2006, ia menerima posisi kedua, dengan tempat pertama dipegang kopi El Injerto.

Harga US$ 40 per pon untuk kopi memang cukup mahal, tapi pasti ada sesuatu yang dapat mengubah persepsi Anda tentang kopi ini.

8. Kopi Hawaii Kona dari Hawaii

Kopi The Hawaiin Kona adalah nama untuk kopi komersial yang dibudidayakan dan tumbuh di Mauna Loa dan lereng Hualalai itu. Wilayah ini terletak di Selatan dan Utara Kona Pulau Hawaii.

Hanya kopi yang  berasal dari kabupaten ini dapat disebut sebagai Kona. Kopi Hawaii Kona dikenal dengan rasanya yang nyaman, yang dapat Anda nikmati seharga US$ 34 per pon.

9. Kopi Starbucks Rwanda Blue Bourbon dari Gatare/Karengera, Rwanda

Starbucks Rwanda Blue Bourbon pada dasarnya adalah jenis biji kopi yang dapat ditemukan di Gatare dan Karengara, Rwanda.

Starbucks memperkenalkan kopi ini ke negara lain ketika perusahaan mengunjungi stasiun pencucian kopi Rwanda  pada tahun 2004.

Saat ini, Blue Bourbon menjadi tanaman kopi utama petani di Rwanda. Harga kopi ini mencapai US$ 24 per pon.

10. Kopi Yauco Selecto AA dari Puerto Rico

Dibudidayakan di Puerto Rico Yauco Area, kopi Yauco Selecto AA adalah kopi yang dijual seharga US$ 24 per pon. Rasa ringan dan kelezatan kopi ini bisa dinikmati pecinta kopi dari seluruh dunia, terutama mereka yang memiliki uang bisa ketagihan. Popularitas kopi ini telah membengkak warga di Puerto Rico.

Sumber : Liputan6.com

Petani Lampung Sambut Panen Kopi dengan Harga Tinggi

Para petani komoditas kopi robusta perdesaan pada beberapa daerah di Provinsi Lampung menyambut gembira menjelang datangnya panen raya kopi pertengahan tahun 2013 ini dengan harga yang menurut mereka cukup tinggi, yaitu sekitar Rp15.000/Kg. "Sekarang para petani kopi sedang memetik buah selang (buah belajar), sedangkan panen rayanya sekitar satu bulan lagi dengan harga saat ini yang cukup tinggi," kata seorang petani kopi di Dusun Sangunjaya, Desa Kotabatu, Kecamatan Pubian, Kabupaten Lampung Tengah, Saipul, di Kotabatu, Minggu. Menurut dia, desa yang terletak di paling ujung barat Lampung Tengah itu sebagian besar warganya petani, baik petani kopi, lada, ubi kayu, coklat, buah-buahan, dan belakangan gemar dan kelapa sawit di samping ada yang memelihara ikan budidaya kolam air yang memiliki sehektare dua hektare kebun itu menjelaskan, saat ini para petani kopi mulai memetik buah belajar, atau warga biasa menyebutnya buah selang, yaitu buah kopi satu dua yang sudah tua atau merah tidak rontok selanjutnya dijual.

Masa panen rayanya sendiri diperkirakan akhir Mei hingga Juni 2013 yang akan datang. Meski masih buah belajar, harga kopi petani di desa yang berjarak sekitar 100 Km barat laut Kota Bandarlampung itu cukup lumayan, yakni sekitar Rp14.000 hingga Rp15.000/Kg. "Memang kalau buah belajar harga jualnya masih agak rendah karena biasanya kualitasnya belum baik dan tidak merata tetapi sudah cukup lumayan, bisa laku sekitar Rp15.000/Kg, diharapkan saat panen raya nanti harga biji kopi bisa lebih tinggi," katanya.

Petani kopi setempat lainnya, Dhofir, menjelaskan, kopi sering turun-naik, jika sedang murah sekitar Rp5.000/Kg, sedangkan saat tinggi bisa atas Rp20.000/Kg. diberitakan, kualitas biji kopi robusta di sejak pada awal April makin membaik, karena cuaca mulai cerah, sehingga harga komoditas itu terdongkrak naik di tingkat pedagang Sentra tanaman kopi di Provinsi Lampung menyebar di Kabupaten, antara lain Kabupaten Tanggamus, Tengah, Lampung Timur, Lampung Utara, dan paling besar di Kabupaten Lampung Khusus Desa Kotabatu, termasuk salah satu desa dan tertinggal serta sering terisoilasi jika musim hujan, merupakan desa penghasil sejumlah komoditas pertanian dan perkebunan serta perikanan.Desa itu terdapat sekitar 750 kepala keluarga (KK) atau sekitar 3.500 jiwa, yang sebagian besar penduduknya memiliki mata pencaharian sebagai petani.

Sumber : http://beritadaerah.com

PENGUMUMAN PRAKUALIFIKASI PERENCANAAN BANGUNAN 2013

PENGUMUMAN PRAKUALIFIKASI

Nomor : 01/DP/Pokja-ULP/XI/2012

 

Pokja ULP pada Balai Penelitian Tanaman Industri dan Penyegar untuk kegiatan Pembangunan / Rehabilitasi Bangunan akan melaksanakan Prakualifikasi untuk paket pekerjaan jasa konsultansi sebagai berikut :

 

1.  Paket Pekerjaan

Nama paket pekerjaan : Perencanaan Pembangunan Gedung Ruang Kerja Balitri

    Lingkup pekerjaan      : Perencanaan Pembangunan Gedung Ruang Kerja Balitri

    Nilai total HPS           : Rp. 113. 900.000,00

                                      (Seratus Tiga Belas Juta Sembilan ratus Ribu Rupiah)

     Sumber pendanaan    : APBN  Tahun Anggaran 2013

 

2.  Persyaratan Peserta

Paket pengadaan ini terbuka untuk penyedia dan memenuhi persyaratan [memiliki SIUJK, SBU Perencana Konstruksi Bidang Arsitektur Sub Bidang Jasa Nasihat/Pradesain, Disain dan Administrasi Kontrak Arsitektural].

 

3.  Pendaftaran dan Pengambilan Dokumen Kualifikasi:

Tempat dan alamat :       Sekretariat Pokja Jasa Konsultansi/Panitia

                                     Pengadaan Barang/Jasa

                                     Balai Penelitian Tanaman Industri dan Penyegar

                                     Jl. Raya Pakuwon – Parungkuda Km 2 – Sukabumi 43357 Telp (0266) 7070941, Fax (0266) 6542087

 

 

Demikian disampaikan untuk menjadi perhatian.

 

Parungkuda, 19 Nopember 2012

 

                                                           Pokja ULP

 

Kunjungan Tim Teknik “Agroenergi” dari Kolombia ke Balittri

Balai Penelitian Tanaman Industri dan Penyegar, Balai ini sejak tahun 2012 menangani penelitian dibidang pemuliaan tanaman, teknologi budidaya, penanganan hama, dan penanganan hasil tanaman pada tanaman kopi, kakao, karet dan teh. Walaupun telah pergantian mandat penelitian, nama Balittri telah terkenal luas di kalangan birokrat, masyarakat umum dan akademisi akan integrasi teknologi pengolahan bioenergi yang dimiliki mulai dari peralatan pengolahan yang lengkap, lokasi yang sejuk di kaki gunung salak dan tata ruang yang eksotik. Sejak tahun 2006-2011, instalasi bioenergi di Balittri telah dikunjungi oleh lebih dari 3000 orang dari 32 Negara. Ternyata hingga saat ini instalasi bioenergi masih memiliki nama yang harum diluar negeri.  Ini terbukti dengan dengan adanya kunjungan Tim Teknik “Agroenergi” dari Negara Kolombia ke Balittri, tepatnya di Kebun Percobaan Pakuwon-Sukabumi tanggal 9 April 2013. Sebelum datang ke Balittri, Tim tehnis dari kolumbia terlebih dahulu telah berdiskusi dengan peneliti Senior Bioenergi di Puslitbang Perkebunan – Bogor mengenai peraturan dan perkembangan bioenergi di Indonesia. Rencananya, setelah dari Balittri, tim teknik dari kolumbia akan melakukan kunjungan ke Balai Besar Mekanisasi Pertanian dan Institut Pertanian Bogor.

Delegasi dari Kolumbia tersebut adalah Mr. Juan Carlos Mejia Nariono, Kementerian Pertanian; Mr. Luis Fernando Capusano Deque, Peneliti dari CORPOICA (Columbian Corporation of Agricultural Investigation); Carlos Grateron Santos, Technical Area Leader dari Federation Nacional De Biocombustribles De Colombia; Mrs. Maria Mescedes Munoz dan Clara Gultom, Kedutaan Kolombia di Jakarta. Tim teknis dari kolumbia disambut oleh Dr. Ir. Rubiyo, M.Si, Kepala Balai Penelitian tanaman Industri dan Penyegar dan semua peneliti Balittri. Setelah dilakukan penyambutan di Kantor dan penjelasan singkat mengenai Balittri, acara dilanjutkan kunjungan ke lapang untuk melihat lebih jelas tanaman penghasil biodiesel, minyak dan biodiesel dari berbagai tanaman, peralatan pengolah biodiesel, peralatan pengolah hasil samping, aplikasi penggunaannya di berbagai tipe kompor dan genset, dan integrasi kopi kakao terpadu.

Gambar 1. Suasana penyambutan di Kantor Balittri


Dalam kunjungannya delegasi kolumbia menceritakan tentang status perkembangan bioenergi di negara mereka. Di Negara Kolumbia, produksi bioetanol dibuat dari tebu sedangkan biodiesel di buat dari minyak sawit. Rencananya mereka juga ingin mengembangkan jarak pagar. Berdasarkan informasi dari mereka, jarak pagar yang telah mereka kembangkan telah berhasil menghasilkan 10 ton biji/ha/17 bulan dan jika dikonversi ke minyak jarak menjadi 1.500 liter minyak/ha/17 bulan. Diakhir kunjungannya, Mr. Carlos mengapresiasi kerja tim di lapangan dan berkata  “This is Innovation” – Ini adalah suatu inovasi. (Asif Aunillah)

Gambar 2. Suasana Diskusi di instalasi pengolahan bioenergi

Ekspor Biji Kakao Diperkirakan Turun 29 Persen

Ekspor biji kakao nasional tahun 2012 diperkirakan turun 29 persen menjadi 150 ribu ton dari 210 ribu ton tahun lalu. Kantor berita Reuters, Senin, 15 Oktober 2012, melaporkan penurunan ekspor biji kakao seiring meningkatnya kapasitas penggilingan dalam negeri. Tujuan utama ekspor biji kakao adalah ke Malaysia dan Amerika Serikat.

Perusahaan penggilingan kakao nasional juga mengimpor biji kakao kualitas tinggi dari Afrika untuk kemudian dicampur dengan produk kakao lokal. Langkah itu untuk memperbaiki rasa dan warna tepung kakao yang kemudian diolah menjadi biskuit dan minuman cokelat.

Impor biji kakao Indonesia dari Afrika bervariasi, bergantung pada produksi biji dan penggilingan lokal. Diperkirakan angka impor mencapai 20-31 ribu ton tahun ini. Tahun 2013, impor biji kakao diperkirakan naik menjadi 100 ribu ton.

Dari sisi produksi, Indonesia memiliki lahan perkebunan kakao seluas 1,5-1,6 juta hektare. Berdasarkan data Kementerian Pertanian, dari angka itu, sebanyak 65 persen di antaranya berlokasi di Sulawesi dan 15 di Sumatera. Sedangkan sisanya di Jawa, Bali, Kalimantan, Maluku, dan Papua.

Petani memiliki 95 persen dari total lahan perkebunan kakao, sedangkan sisanya dimiliki oleh badan usaha milik negara dan swasta.

Meski demikian, kualitas produksi kakao Indonesia sedang mengalami penurunan. Pemerintah berupaya meningkatkan produksi karena tanaman kakao kebanyakan sudah ditanam sejak 1980-an sehingga rentan terkena penyakit.

Banyak di antara petani, yang memiliki lahan perkebunan kurang dari 1 hektare, masih minim teknologi tanam. Dengan rendahnya harga jual kakao, para petani kesulitan untuk membeli pupuk atau pestisida bagi kebun kakao mereka.

Produksi kakao Indonesia tahun ini diperkirakan tidak jauh berbeda dengan tahun lalu, yaitu sebesar 435 ribu hingga 450 ribu ton. Tahun lalu, realisasi produksi kakao nasional sebesar 435 ribu ton. Perkiraan stagnasi produksi akibat musim kemarau yang panjang dan hama tanaman.

Akibat rendahnya teknologi pertanian dan penyebaran hama tanaman, pemerintah memangkas angka produktivitas kebun kakao dari 1,1 ton per hektare menjadi 660 kilogram per hektare dalam lima tahun terakhir. Pada 2006, produksi kakao nasional sempat menyentuh rekor 621.873 ton. Namun, sejak saat ini. produksi tidak pernah mencapai 600 ribu ton per tahun.

Produk biji kakao Indonesia dikenal memiliki kualitas rendah karena bentuknya kecil dan meninggalkan banyak sampah sehingga harganya rendah. Utamanya karena biji kakao Indonesia tidak difermentasi sehingga harus dicampur dengan biji kakao impor untuk memproduksi tepung kakao.

Pada 2009, pemerintah Indonesia meluncurkan program untuk mendorong produksi kakao nasional menjadi 600 ribu ton per tahun pada 2013 dengan anggaran senilai US$ 350 juta. Program ini memberikan pupuk gratis untuk meningkatkan produktivitas tanaman kakao di lahan seluas 145 ribu hektare dan mengembangkan bibit pohon kakao yang lebih baik.

Program ini juga mencakup peremajaan pohon kakao di lahan seluas 235 ribu hektare. Sekitar 700 ribu hektare kebun kakao yang rusak juga ditanami kembali dengan pohon baru. Namun survei independen pada Juli 2012 mengungkapkan, penanaman pohon kakao baru itu dinilai tidak efektif. Banyak pohon kakao yang masih baru sudah mati dan banyak petani akhirnya beralih bisnis ke budidaya kelapa sawit sebagai gantinya.

Dari sisi industri, konsumsi cokelat di Indonesia memiliki potensi tumbuh pada masa mendatang. Saat ini, konsumsi tahunan cokelat masyarakat Indonesia hanya 0,2 kilogram per orang dibandingkan 0,6 kilogram per orang di Malaysia dan 10 kilogram per orang di Eropa.

Untuk meningkatkan kapasitas penggilingan biji kakao nasional, pemerintah meningkatkan pajak ekspor biji kakao hingga 15 persen April 2010. Kebijakan bea ekspor diputuskan setiap bulannya berdasarkan harga kakao ekspor.

Perusahaan penggilingan utama nasional adalah PT General Food Industries, anak perusahaan Petra Foods Limited, perusahaan yang berbasis di Singapura. Kemudian ada beberapa perusahaan swasta lain, seperti PT Bumi Tangerang, PT Effem Indonesia, dan perusahaan terbuka PT Davomas Abadi Tbk.

Perusahaan asal Malaysia, Guan Chong Berhad, telah membangun pabrik penggilingan kakao dengan kapasitas 150 ribu ton per tahun di Pulau Batam. Perusahaan asal Amerika Serikat, Cargill dan Barry Callebaut, juga tertarik berinvestasi US$ 150 juta untuk pabrik penggilingan kakao di Indonesia.

Kapasitas produksi penggilingan biji kakao nasional diperkirakan mencapai 350 ribu ton tahun ini dan diperkirakan akan naik menjadi 600 ribu ton di 2013. (REUTERS | ABDUL MALIK)

Sumber : http://tempo.co

 

Balittri Kedatangan tamu dari ACIAR Australia

Pada hari Selasa tanggal  02 Oktober 2012, BALITTRI menerima kunjungan tamu istimewa dari ACIAR (Australian Center for International Agricultural Research).  Mereka adalah Dr. Rodd Dyer (Research Program Manager, Agribusiness, ACIAR) dan (Jeff Neilson, PhD BSc (Hons) BA The University of Sidney).  

Dalam pertemuan tersebut, Dr Rodd Dyer menjelaskan selayang pandang tentang ACIAR dan program-program ACIAR di Indonesia.  Program ACIAR di Indonesia menitikberatkan  pada pertumbuhan yang berkelanjutan dan manajemen ekonomi, yang berfokus pada peningkatan peluang ekonomi bagi masyarakat pedesaan.

Indonesia merupakan negara mitra yang penting bagi Australia karena faktor kedekatan geografis dan kepentingan strategis. Program ACIAR di Indonesia adalah untuk mendukung Australia – Indonesia Partnership 2008 – 2013 (AIP) yang merupakan rancangan komprehensif dalam pengentasan kemiskinan di Indonesia.  Dukungan ACIAR, yang tercermin dalam Pilar 1, adalah pertumbuhan yang berkelanjutan dan manajemen ekonomi, berfokus pada peningkatan peluang usaha bagi masyarakat pedesaan melalui peningkatan produktivitas, membuka akses pasar, perbaikan infrastruktur dan pertumbuhan usaha kecil dan menegah di beberapa provinsi tertentu. 

Sementara itu, Dr Jeff Neilson memaparkan penelitian yang telah dilakukan oleh beliau di Indonesia, khususnya Indonesia bagian timur.  Dr Neilson (yang fasih berbahasa Indonesia) memiliki pengalaman lebih dari 15 tahun tinggal dan melakukan penelitian di Indonesia.  Saat ini Dr Neilson  meneliti produksi kakao berkelanjutan di Indonesia bagian timur (Sulawesi dan Papua) dan kemitraan antara para petani dengan pembeli kopi specialty (Sulawesi, Flores dan Papua), pengelolaan hutan, perencanaan tata ruang dan pengelolaan sumber daya alam berbasis masyarakat (Sumatera).  

 

 

 

Pertemuan diakhiri dengan saling tukar pikiran antara peneliti BALITTRI dan perwakilan dari ACIAR.  Di akhir acara, Kepala BALITTRI (Dr. Rubiyo) memberikan cinderamata kepada Dr. Rodd Dyer.  Semoga pertemuan tersebut menjadi awal dari kerjasama yang baik antara BALITTRI dengan ACIAR dan The University of Sidney dalam pengembangan penelitian di masa yang akan datang, khususnya penelitian tentang kopi, karet, kakao dan teh. 

 

 

 

PENGUMUMAN Pangadaan Jasa Konsultansi SMARTD 2012

Sustainable Management of Agricultural Research and Technology Dissemination (SMARTD)
Loan IBRD No. 8188-ID


PENGUMUMAN
Undangan untuk Memasukkan Pernyataan Berminat
(Request for Expressions of Interest)
Nomor : 002/DK/Pokja-ULP/X/2012
Tanggal 11 Oktober 2012


Nama Pekerjaan :  Balittri : Designing of Construction Integrated Laboratory


Pemerintah Republik Indonesia telah menerima bantuan dana berupa pinjaman dari International Bank for Reconstruction and Development (IBRD)/World Bank (WB) untuk membiayai Sustainable Management of Agricultural Research and Technology Dissemination (SMARTD) Project dan bermaksud untuk menggunakan sebagian dari dana pinjaman tersebut untuk membiayai Paket Kontrak Layanan Jasa Konsultan Perencanaan Bangunan Laboratorium Terpadu (Balittri  : Designing  of Construction Integrated Laboratory)


Layanan jasa konsultan tersebut meliputi: (1) Melakukan perencanaan kontruksi pembangunan Laboratorium Terpadu (2) Membuat perkiraan Biaya (RAB); (3) Membuat Laporan akhir perencanaan; (4) Menyusun dokumen pelelangan.Jangka waktu pelaksanaan yang diinginkan adalah 40 hari kalender sejak kontrak ditandatangani.  
Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Kementerian Pertanian mengundang perusahaan konsultan yang berpengalaman di bidang desain konstruksi yang memenuhi syarat untuk memasukkan pernyataan minat untuk memberikan layanan jasa konsultansi. Perusahaan konsultan yang berminat harus memberikan informasi yang mendukung bahwa perusahaan yang bersangkutan memenuhi syarat untuk menjalankan layanan jasa tersebut.  Kriteria dalam penyusunan daftar pendek konsultan (short-list) adalah: (1) Mempunyai pengalaman minimal 8 tahun dalam merencanakan pembangunan gedung;(2) Mampu menyediakan tenaga ahli yang dibutuhkan; (3). Lebih diutamakan yang mempunyai pengalaman dalam merancang pembangunan laboratorium.


Perusahaan Konsultan dapat berasosiasi satu sama lain dalam bentuk joint venture atau sub konsultan untuk meningkatkan kualifikasi mereka.
Pemilihan Konsultan akan menggunakan metode Consultants’ Qualifications Selection (CQS) sesuai yang ditetapkan dalam Pedoman Konsultan Bank Dunia (Guidelines: Selection and Employment of Consultants by World Bank Borrowers) edisi January 2011.


Informasi lebih lanjut bagi yang berminat dapat menghubungi:
Pokja ULP Balai Penelitian Tanaman Industri dan Penyegar, Jalan Raya Pakuwon-Parungkuda Km 2 Sukabumi 43357.  http://balittri.litbang.deptan.go.id
Pernyataan minat untuk menjadi konsultan  dan dokumen kualifikasi harus disampaikan dalam bentuk tertulis ke alamat di bawah ini (secara langsung, email, atau melalui pos) paling lambat diterima oleh Pokja ULP tanggal 17 Oktober 2012 jam 14.00 Waktu setempat.


Balai Penelitian Tanaman Industri dan Penyegar
UP:  Pokja ULP Balai Penelitian Tanaman Industri dan Penyegar, Jalan Raya Pakuwon-Parungkuda Km 2 Sukabumi 43357  Telp. (0266 7070941) Fax. (0266 6542087) E-mail: balittri@gmail.com

Pengumuman Pengadaan Perlengkapan Sarana Kantor

PENGUMUMAN PELELANGAN SEDERHANA DENGAN PASCAKUALIFIKASI

Nomor : 36/PL.210/1.4.4/03/2012

Nama Paket    : Pengadaan Perlengkapan Sarana Perkantoran

Nilai Total HPS : Rp. 190.700.700

Sumber Dana  : APBN Tahun Anggaran 2012

Download Pengumuman Lengkap

Download Dokumen Pengadaan

 

 

 

Kunjungan Kerja Wakil Menteri ESDM dan Komite II DPD-RI ke Balittri

Hari Rabu, tanggal 22 Februari 2012, Komite II Dewan Perwakilan Daerah (DPD-RI) yang dipimpin oleh Ketua Komite II Ir. H. Bambang Susilo, MM dan Wakil Menteri Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral (ESDM) Prof. Dr. Widjajono Partowidagdo, yang didampingi Staf Ahli Menteri (SAM) Energi dan Sumber Daya Mineral Bidang Investasi dan Produksi Ir. F.X. Sutijastoto, MA melakukan kunjungan kerja ke Balai Penelitian Tanaman Industri dan Penyegar (BALITTRI) di Parungkuda, Sukabumi untuk melihat secara langsung potensi tanaman kemiri minyak (Reutealis trisperma [Blanco] Airy Shaw) sebagai pengganti Bahan Bakar Minyak (BBM) serta proses pengolahannya. Kunjungan ini merupakan tindak lanjut dari kunjungan sebelumnya oleh Wamen ESDM ke BALITTRI pada tanggal 28 Januari 2012.

Rombongan  disambut oleh Kepala Badan Litbang Pertanian, Dr. Haryono. Pada sambutannya, alumnus Asian Institute of Technology Bangkok ini menekankan pentingnya riset terhadap kemajuan bangsa. Biaya riset tersebut merupakan suatu investasi jangka panjang dan akan kembali berlipat-lipat. Sebagai contoh hasil riset kelapa sawit di kebun raya yang awalnya dulu hanya 3 pohon, sekarang menjadi 23 juta ton/tahun. Berkaitan dengan hal tersebut, Kepala Badan juga menjelaskan tugas litbang ada 4, yaitu menghasilkan varietas unggul dan perbenihannya, menghasilkan inovasi pendukung produktivitas dan produksi, desiminasi transfer teknologi ke masyarakat, serta kolaborasi dengan mitra.


SAM ESDM menambahkan, dibutuhkan tiga pilar untuk mencapai ketahanan energi yaitu  ketersediaan energi, aksestabilitas masyarakat dan daya beli masyarakat. Oleh karena itu dibutuhkan tata niaga dari hulu hingga hilir, dalam hal ini adalah komoditas kemiri minyak. Apalagi cadangan minyak Indonesia yang terus menurun, menuntut dilakukannya perubahan sasaran kebijakan, yaitu di tahun 2015 target penggunaan energi terbarukan yang awalnya 17 %, dinaikkan menjadi 20% dan biofuel mendapatkan share 8 % dari sebelumnya sebesar 5%. Pengembangan tanaman sebagai Bahan Bakar Nabati (BBN) tidak memerlukan lahan subur, tetapi dapat ditanam di lahan marginal yang sekaligus untuk pengembangan kewirausahaan setempat dalam pengolahan biofuel.

Gambar 1. Suasana diskusi DPD-RI komite II, SAM ESDM,  ka. Badan dan anggota forum

 

Bapak yang sering dipanggil dengan nama “pak Toto” ini lebih lanjut menjelaskan, kemiri minyak merupakan komoditas baru sehingga perlu dipersiapkan spesifikasinya mulai dari spesifikasi buah, biji hingga biodiesel yang dihasilkan. Regulasi tersebut perlu dikembangkan agar tata niaga kemiri minyak sebagai komoditas untuk biofuel dapat berjalan. Beliau mengharapkan forum ini sebagai “kick off meeting” sinergi pengembangan biofuel di Indonesia.


Terkait dengan kemiri minyak, Komite II DPD RI, yang menangani bidang pertanian dan perkebunan; perhubungan; kelautan dan perikanan; energi dan sumber daya mineral; kehutanan dan lingkungan hidup; pemberdayaan ekonomi kerakyatan dan daerah tertinggal; perindustrian dan perdagangan; penanaman modal; dan pekerjaan umum,  tertarik untuk mengembangkan komoditas tersebut di daerahnya. Ketua Komite II DPD RI memandang pertemuan ini merupakan sarana dalam mencari solusi mengenai biofuel di Indonesia, Beliau mengharapkan anggota DPD RI yang hadir dapat menyebarkan informasi mengenai komoditas kemiri minyak sebagai alternatif biofuel kepada konstituen di masing-masing daerah. Pada kunjungan kali ini, ketua Tim Komite II didampingi oleh Intsiawati Ayus, SH. MH (Wk. Ketua Komite II, Anggota Prov.  Riau), Prof. Dr. H. Mohamad Surya (Anggota Prov. Jabar), Parlindungan Purba, SH. MM (Anggota Prov. Sumut), Ahmad Syaifullah Malonda, SP (Anggota Prov. Sulawesi Tengah), H. Ir. Abd. Jabbar Toba (Anggota Prov. Sulawesi Tenggara), Ishak Mandacan, SH (Anggota Prov. Papua Barat), serta beberapa staf komite II lainnya.


Setelah sambutan, acara dilanjutkan dengan presentasi tentang Perkembangan Penelitian BBN di Badan Litbang Pertanian oleh Peneliti Bioenergi, Prof. Bambang Prastowo. Beliau menyatakan teknik pemuliaan konvensional membuat produktivitas jarak pagar meningkat dari yang awalnya 4-5 ton/ha (IP-1A/M/P) di tahun 2006 menjadi 8-10 ton/ha (IP-3A/P) di tahun 2008. Teknik tersebut menurut beliau sudah sampai pada batasnya, sehingga perlu dilakukan penelitian secara GMO atau hibridization. Hasil evaluasi jarak pagar, didapatkan bahwa produktivitas jarak pagar berbeda dengan prediksi awal, yaitu setelah 1,5 tahun produktivitasnya sudah menurun, sehingga profesor menyarankan jarak pagar dibuat sebagai tanaman setahun. Namun permasalahannya, tenaga kerja yang diperlukan akan meningkat drastis.     


Sebagai alternatif, terdapat tanaman kemiri minyak yang mempunyai potensi lebih tinggi dibandingkan jarak pagar. Tinggi dan rimbunnya tanaman ini, membuat tanaman kemiri minyak dapat digunakan sebagai tanaman konservasi dan selisih suhu di bawah tanaman kemiri minyak dapat mencapai 7°C. Balittri di tahun 2011 telah berhasil melepas 2 varietas unggul tanaman kemiri minyak yaitu “Kemiri Sunan 1” (Kepmentan No. 4000/2011) dan “Kemiri Sunan 2” (Kepmentan No. 4044/2011). Produksi tanaman yang baru dilepas ini dapat mencapai 50 – 289 kg/ph/thn. Kernel dari kemiri minyak dapat menghasilkan 52% minyak kasar, rendemen minyak jarak pagar hanya mencapai 32%.

Gambar 2. Anggota DPD-RI komite II, Wamen ESDM,  dan ka. Badan berfoto bersama di kebun Kemiri minyak Balittri

 

Penggunaan teknologi  produksi biodiesel yang dilakukan oleh peneliti Balittri, rendemennya mencapai 88% dari minyak kasar dan kualitas biodieselnya telah berhasil memenuhi 17 dari 18 standar SNI. Setelah pemaparan dan diskusi, Komite II DPD dan Wamen ESDM beserta rombongan melanjutkan kunjungan ke lapang untuk melihat lebih jelas pembibitan, penanaman, proses pengolahan kemiri  minyak menjadi biodiesel, serta aplikasi penggunaannya di berbagai tipe kompor dan genset. Acara kunjungan diakhiri dengan ramah tamah dan santap siang.

 

 

 

Sosialisasi Hak Kekayaan Intelektual (HKI) dan Alih TeknologiDalam rangka meningkatkan Adopsi Invensi oleh industri

Pada Tanggal 10 Februari 2012, di Balai Penelitian Tanaman Industri dan Penyegar (Balittri) diadakan Sosialisasi Hak Kekayaan Intelektual (HKI) dan Alih Teknologi dari Balai Pengelola Alih Teknologi Pertanian (BPATP), Para peneliti dihimbau untuk meningkatkan jumlah HKI dan PVT (Perlindungan Varietas Tanaman) untuk pengembangan teknologi bagi pembangunan pertanian. Disampaikan pada acara tersebut tata cara dan proses pendaftaran HKI yang berupa : Paten, Hak Cipta, Merek, dan Perlindungan Varietas Tanaman (PVT). Selain mengelola pengajuan HKI, BPATP juga akan menjembatani antara Peneliti/Balai Penelitian yang menghasilkan invensi teknologi dengan Lisensor (mitra kerjasama/badan usaha/industri) melalui kegiatan Round Table Meeting

Ada Tujuh Indikator Untuk mengukur Keberhasilan Lembaga Litbang

1.       Publikasi ilmiah (nasional)

2.       PI Internasional

3.       Sitasinya

4.       HKI

5.       Layanan Teknologi

6.       Lisensi

7.       Spin off

Untuk mendukung  itu semua Badan Litbang Pertanian mempunyai langkah strategis yaitu :

1. Penelitian harus bersifat aplikatif untuk pemenuhan pasar

2. Hasil-hasil penelitian tersebut harus mempunyai keunggulan komparatif, kompetitif dan mudah diadopsi

3. Mengembangkan sistem alih teknologi yang meliputi perlindungan HKI, promosi dan kerjasama pemanfaatan yang memadai dan mudah diimplementasikan.

Alih teknologi adalah mekanisme pengalihan teknologi/penemuan dari UK/UPT kepada mitra kerjasama baik melalui lisensi maupun tanpa lisensi. Berdasarkan peraturan tentang alih teknologi, perguruan tinggi dan lembaga litbang wajib mengusahakan alih teknologi yang dibiayai oleh pemerintah. Adapun tujuan kerjasama alih teknologi adalah : menyebarluaskan hasil litbang ( invensi ), meningkatkan kemampuan masyarakat dalam memanfaatkan dan menguasai hasil litbang, pengembangan dan penyebarluasan kemajuan IPTEK dan mendorong pertumbuhan ekonomi.

Dalam sosialisasi ini juga dilakukan sesi diskusi yang bernama pojok konsultasi, para peneliti dari Balittri bisa berkonsultasi dan menanyakan apapun tentang Hak kekayaan Intelektual, meliputi, paten, hak cipta, peraturan perundangan sampai dengan peluang – peluang yang ada.

Salah satu penelitian dari Balittri yang dikerjakan oleh Dr. Iwa Mara Tisawa, M.Si dkk. menghasilkan Invensi berupa Insektisida Biotris Cair, yaitu insektisida nabati berbentuk cair yang digunakan untuk mengendalikan penggerek batang cengkeh, pala, lada dan tanaman lainnya yang mampu menekan tingkat serangan hama tanaman tersebut. Biotris ini berbahan aktif utama alpha-eleosteraic acid. Penandatanganan kerjasama lisensi dengan pihak mitra kerjasama telah dilaksanakan pada saat acara Round Table Meeting di JCC pada hari kamis tanggal 9 februari 2012.

Kunjungan Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) ke Kebun Balittri

Pada hari sabtu tanggal 28 Januari 2012 Balittri kedatangan tamu dari kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Wakil menteri ESDM Bapak Prof. Widjajono Partowidagdo menyempatkan kujungan ke Balittri untuk melihat secara langsung teknologi yang telah dikembangkan di Balittri berkaitan dengan pengolahan minyak nabati menjadi bahan bakar (Biodiesel) dan potensi tanaman kemiri minyak (Reutealis trisperma Blanco) sebagai pengganti Bahan Bakar Minyak (BBM).

 

Pada acara tersebut Wamen ESDM disambut kepala Balittri dan Penjab instalasi laboratorium teknologi Balittri kemudian langsung dipresentasikan potensi tanaman-tanaman penghasil minyak nabati yang dapat digunakan sebagai bahan baku Biodiesel seperti Jarak Pagar, Nyamplung, Kesambi, Kepuh dan Kemiri Minyak. Kemiri minyak merupakan tanaman yang paling potensial dikembangkan untuk konservasi lahan dan menjadi penghasil Biodiesel disamping jarak pagar yang lebih dulu dikembangkan.

 

 

Selanjutnya ditunjukkan proses pengolahan biji tanaman tersebut menjadi Biodiesel (bahan baku yang tersedia saat itu adalah biji jarak pagar). Dimulai dari alat pemecah buah jarak untuk mendapatkan biji jarak pagar (kapsul) dan memisahkan dari kulit buahnya. Kemudian alat ekstraksi/pemeras minyak dari biji (screw press)  menghasilkan minyak kasar dan bungkil. Proses selanjutnya minyak kasar difiltrasi dengan spinner/sentrifuge baru masuk ke unit reaktor Biodiesel hybrid hasil rekayasa teknologi Balittri untuk reaksi trans-esterifikasi dan pemurnian sehingga dihasilkan Biodiesel yang langsung bisa dimanfaatkan sebagai bahan bakar mesin diesel.

 

Hasil samping dari proses ekstraksi berupa bungkil biji, dengan optimalisasi teknologi dapat diproses lagi menjadi berbagai produk seperti biogas, pupuk organik dan pakan ternak. Dari 3 kg bungkil kemiri minyak dapat dihasilkan kurang lebih 1,5 m3 Biogas yang setara dengan 1 liter minyak tanah. Limbah pemrosesan biogas dari bungkil (sludge-nya) juga diproses lebih lanjut menjadi pupuk organik karena kandungan unsur hara yang dikandungnya relatif tinggi.

 

Pada kesempatan tersebut ditunjukkan aplikasi Biodiesel kemiri minyak pada mesin diesel pompa air yang menunjukkan performa baik dan lebih ramah terhadap mesin daripada solar. Bapak Wamen juga berkesempatan mencoba sendiri naik mobil bermesin diesel yang sebelumnya diisi langsung dengan Biodiesel kemiri minyak produksi laboratorium Balittri.

 

Selain minyak nabati, di dalam biji kemiri minyak juga mengandung senyawa metabolit sekunder yang mampu berperan sebagai pestisida alami. Sehingga dalam pemanfaatannya dapat digunakan sebagai sarana produksi bagi para petani dalam pengendalian hama dan penyakit. Saat ini formula pestisida Nabati dari kemiri minyak ini sedang dikembangkan oleh tim peneliti Balittri.

 

Expo Nasional Inovasi Perkebunan (ENIP) 2011

Expo Nasional Inovasi Perkebunan (ENIP) 2011 selama 3 hari mulai tanggal 14 sampai 16 Oktober 2011 bertempat di Balai Kartini Jl Gatot Subroto kawasan Kuningan Jakarta. ENIP kali ini mengangkat tema “Inovasi Mendukung Peningkatan Nilai Tambah, Daya Saing dan Ekspor Perkebunan”. Diharapkan komoditas perkebunan bisa menjadi pemeran utama dalam upaya peningkatan nilai tambah, daya saing dan ekspor produk, yang berujung pada perbaikan kesejahteraan petani  Acara dibuka oleh Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa.

Expo Nasional Inovasi Perkebunan (ENIP) 2011 merupakan gelar inovasi yang secara umum bertujuan memperkenalkan teknologi perkebunan kepada masyarakat luas, baik teknologi yang dihasilkan oleh institusi penelitian lingkup Badan Litbang Pertanian maupun oleh lembaga riset lainnya.


ENIP II 2011 merupakan agenda diseminasi potensi inovasi perkebunan Indonesia dan dikemas dalam beberapa kegiatan seperti :

(1) Pameran karya inovasi perkebunan dan pestisida nabati,

(2) Diskusi interaktif peningkatan nilai tambah, daya saing dan ekspor perkebunan,

(3) Seminar nasional inovasi perkebunan,

(4)  Temu bisnis inovasi dan produk perkebunan.

 

Dalam sambutannya, Menteri Pertanian Dr. Ir. Suswono, MMA. mengatakan bahwa Kementerian Pertanian telah melaksanakan berbagai program pertanian, yang seluruhnya dilandasi adanya inovasi baru dari hasil-hasil riset. Dalam upaya revitalisasi perkebunan termasuk dalam gerakan nasional pengembangan kakao misalnya, telah dimanfaatkan bibit unggul kakao hasil teknologi Somatic Embryogenesis (SE). Untuk mendukung pencapaian swasembada gula, berbagai varietas unggul tebu nasional hasil riset antara lain dari hasil teknologi kultur jaringan juga sudah mulai disebarkan kepada petani. Persaingan global dalam perdagangan komoditas pertanian khususnya perkebunan menuntut inovasi teknologi maju hasil riset Kementerian Pertanian.


Mentan juga mengemukakan bahwa kedepan, pembangunan pertanian akan terus dilaksanakan dengan tetap mempertimbangkan inovasi hasil kajian riset yang terhandal. Maka dari itu pada kesempatan ini Kementeri Pertanian menggelar berbagai inovasi unggulan bidang pertanian khususnya perkebunan. Beliau juga mengajak seluruh komponen bangsa untuk bersama-sama menampilkan inovasinya untuk kesejahteraan rakyat.
 


Menko Perekonomian Hatta Rajasa dalam arahannya mengatakan beberapa isu pokok yang diangkat sebagai tema dalam Expo ini yaitu nilai tambah, daya saing dan ekspor. Menko Perekonomian mengetahui bahwa tema ini juga mengusung Sukses ke tiga dari 4-Sukses Kementerian Pertanian. Beliau mengapresiasi pencanangan target Kementerian Pertanian ini, karena upaya yang dilakukan untuk meraih target tersebut, tentunya akan membawa dampak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Pencapaian target di atas bukanlah sesuatu yang mustahil. Kita memiliki sumberdaya yang cukup untuk bisa meraihnya, termasuk sumberdaya INOVASI. Inovasi adalah kata kunci pemenangan pasar. Hal ini sekaligus mencirikan adanya daya saing yang tinggi dan kemampuan untuk membangkitkan nilai tambah.


Menyangkut inovasi ini, Menko Perekonomian mengajak anak bangsa untuk terus mengembangkan inovasi dan menjadikan diri kita sebagai pengguna pertama dari setiap inovasi yang kita hasilkan. Untuk itu, bisa jadi perlu adanya tambahan investasi untuk kegiatan litbang,. Prioritas penelitian dan sinergisme peneliti lintas institusi juga perlu dibangun untuk efektivitas dan efisiensi kegiatan penelitian.


Kegiatan litbang diharapkan mampu segera menghasilkan berbagai cara untuk memecahkan permasalahan. Namun  beliau sangat memahami bahwa tidak semua kegiatan litbang harus bersifat Quick Yielding. Inovasi bukanlah sebuah produk instan. Teknologi dibangun melalui usaha yang sistematis, terencana dan fokus, dengan mempertimbangkan permasalahan yang ada, serta peluang dan masalah yang mungkin timbul di masa depan.
Investasi di bidang litbang bukanlah sebuah pemborosan, tetapi adalah sebuah kebutuhan, yang secara legal bahkan menjadi amanah dari Undang-Undang No 18/ 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian, Pengembangan dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi.


Pembangunan pertanian, termasuk sub-sektor perkebunan, harus bermuara pada kesejahteraan rakyat dan stabilitas ekonomi. Menko Perekonomian menandaskan hal ini, karena kesejahteraan rakyat adalah amanah Undang-Undang Dasar 1945. Sedangkan stabilitas ekonomi adalah prasyarat untuk keberlanjutan usaha pembangunan bangsa di tengah suasana demokrasi yang terus bergulir menuju bentuk keseimbangannya. Pidato ini disampaikan sebelum membuka Expo Nasional Inovasi Perkebunan 2011, secara resmi.

Acara dilanjutkan dengan kunjungan Mentan dan Menko Perekonomian ke pameran,


Dalam gelar teknologi pada ENIP 2011 Balittri menampilkan yaitu :
Cluster Rempah, menampilkan vanili, pala, lada, rimpang-rimpangan. teknologi pengolahan lada. Sedangkan produk-produk yang digelar diantaranya produk pala (minuman segar, manisan basah, kering, permen, minyak pala, sirup pala).





Cluster Pestisida Nabati menampilkan Biotris, Insektisida nabati yaitu formula nabati berbentuk cair untuk mengendalikan penggerek batang cengkeh, pala dan lada



Cluster Produk Spesiality dan Pangan Subtitusi menampilkan kopi, kakao, produk olahan kakao, kopi sangria, kopi luwak luwak, feses, biji kopi.





Cluster Minyak dan bahan Industri menampilkan tanaman :  Tebu, kenaf, jarak pagar, jambu mete, tanaman penghasil minyak nabati. Teknologi digelar yaitu SE tanaman penghasil minyak dan bahan industri, model pengolah VCO. Sedangkan produk-produk yang digelar diantaranya produk jambu mete (CNSL, sirup, kacang mete, abon, selai gelondongan), produk minyak nabati, produk biodiesel.





Cluster Sarana, Alat dan Mesin Perkebunan menggelar alsin pengolahan kakao, Reaktor Biodiesel




 

 

 

 

Pertanian Organik, Salah Satu Cara Mengembalikan Kedaulatan Petani

Pertanian yang selaras dengan alam disebut dengan “pertanian organik”. Pertanian ini kembali pada teknik bertani tanpa pupuk kimia dan pestisida. Pasar produk organik semakin meningkat, sejalan dengan meningkatnya keinginan masyarakat untuk menggunakan produk sehat tanpa tercemar bahan kimia. Bagi petani menggunakan pupuk organik memberikan kesempatan untuk tidak bergantung kepada pupuk pabrikan, sehingga petani menjadi mandiri dan berdulat, karena  petani memiliki semua bahan untuk pembuat pupuk organik sehingga mereka lebih bebas dari ketergantungan dari pihak lain.

Sejak revolusi hijau lebih dari 60 tahun yang lalu, penggunaan bahan kimia pada lahan pertanian  meningkat sangat tajam. Dosis pemupukan semakin tahun semakin meningkat, bila tahun 1950 dosis pemupukan padi hanya sekitar 100 kg per ha, pada tahun 2009 menjadi 500 kg per ha. Kondisi ini tidak hanya menyebabkan petani sangat tergantung pada pupuk anorganik tetapi juga telah merusak lahan, membunuh serangga madu dan meningkatnya kandungan bahan kimia pada produk pertanian. Rachel Carson pada tahun 1962 mengatakan bahwa “kita dihadapkan pada dua jalan bercabang. Jalan yang satu, yang telah kita tempuh selama ini, adalah jalan tol yang mulus yang memungkinkan kita memacu kecepatan, tapi pada akhirnya menuju bencana. Jalan lainnya untuk ditempuh, sangat sepi, tapi hanya itulah yang akan membawa kita ke tujuan akhir pelestarian bumi ini”. Jalan pertama adalah metode bertani yang mengandalkan pupuk kimia dan pestisida. Sebaliknya jalan kedua adalah metode bertani selaras dengan alam atau kemudian dikenal dengan pertanian organik.

Produk pertanian organic sangat diminati konsumen sehingga harganya hampir 5 kali lipat dibandingkan dengan produk pertanian konvensional, hal ini menyebabkan produsen pupuk anorganik juga membuat pupuk organic dan pestisida nabati. PT. Pupuk Kalimantan Timur telah membangun pabrik pupuk organic berkapasitas 3.600 ton per tahun dengan merek Zeorganik. Kedepan, mereka menargetkan produksi pupuk organic mencapai 10.0000 ton per tahun. PT. Pupuk Sriwijaya (Pusri) juga mengembangkan pupuk organic yang diberi nama Pusri Plus dengan kapasitas produksi sebesar 100.000 ton per tahun.  Pupuk organic pabrikan ini masuk ke pasar dan memenuhi kebutuhan petani, kembali menguasai petani dan petani menjadi ketergantungan.

Dari hasil beberapa penelitian dan pengalaman petani menunjukan bahwa pemberian bahan organic selama tiga tahun berturut-turut memberikan panen yang sama dengan menggunakan pupuk anorganik. Artinya petani tidak perlu kuatir bahwa produktivitasnya akan selalu rendah dan tidak menguntungkan.

Ketersediaan bahan baku pupuk organic di pedesaan cukup banyak, teknologi pembuatan pupuk organic sudah sangat banyak, mulai dari bakteri pembusuknya sampai pada cara memperkaya unsure haranya sesuai dengan komposisi hara yang sesuai. Pengetahuan ini yang  harus dimiliki petani, melalui sekolah-sekolah lapang dan penyuluhan. Pada tahap pertama kita harus yakin bahwa petani mampu meracik pupuk organik sesuai dengan kebutuhannya, kemudian baru pengetahuan lainnya. Dengan demikian petani akan terlepas dari ketergantungan pupuk dari pihak lain dan berdaulat dalam berusahatani.

Pertanaman lada terintegrasi dengan ternak merupakan salah satu budidaya lada terpadu, yang memberikan kesempatan kepada petani untuk menyediakan pupuk organic bagi tanaman ladanya. Satu hektar tanaman lada dengan tiang panjat hidup dari tanaman glirisedia dan penutup tanah dengan tanaman arachis pentoi, cukup menyediakan pakan 6 ekor kambing atau 1 ekor sapi. Ternak ini dengan berangkasan lainnya akan menghasilkan pupuk organic sebanyak lebih kurang 8 ton/tahun atau dapat memenuhi kebutuhan pupuk 1600 batang tanaman lada setiap tahunnya. Kunci dari penyediaan sendiri pupuk organic ini adalah, bagaiamana petani harus mempunyai hewan peliharaan sebagai sumber bahan organik. (Yulius Ferry/Email: yulius_ferry@yahoo.com)
 

Kabupaten Sumba Barat Daya Terbuka untuk Investor Asing dalam Pengembangan Jarak Pagar

buah jarak pagarTanaman jarak pagar (Jatropha curcas L) banyak tumbuh secara sporadic di Propinsi Nusa Tenggara, tidak terkecuali di Kabupaten Sumba Barat Daya.  Areal pengembangan yang tersedia mencapai 3.500 ha, dimana 1.050 ha diantaranya sesuai untuk pengembangan tanaman jarak pagar, sedangkan sisanya dapat berpotensi ditanami dengan tanaman kemiri sunan. Potensi ini mendorong Puslitbang Perkebunan membawa investor untuk menanamkan modalnya di daerah ini. Pemerintah Kabupaten sangat membuka diri untuk menerima penanam modal tersebut. Kepada investor diharapkan dapat mempresentasekan rencana bisnis di depan Pemkab dan DPRD, dan segera melakukan kegiatan riil di lapangan seperti pemetaan semi detail, pembangunan kantor dan sebagainya, sehingga Pemkab dan masyarakat yakin terhadap niat investor tersebut. Kabupaten Sumba Barat Daya, merupakan kabupaten baru,  pemekaran dari Kabupaten Sumba Barat, berdasarkan Undang-undang no. 16 tahun 2007. Kabupaten ini terdiri dari 8 kecamatan dengan luas 1.445,32 km2 dan mencanangkan daerahnya menjadi daerah perkebunan. Jenis tanaman yang diunggulkan antara lain jambu mete, kelapa, kemiri dan lontar. Sedangkan jarak pagar ditanam sebagai tanaman pagar atau sebagai tiang panjat vanili. Potensi tanaman jarak pagar yang besar sebagai sumber bahan bakar nabati (BBN) menyebabkan daerah ini dikenal sebagai daerah sumber biji jarak pagar baik untuk benih maupun untuk produk minyak, karena produktivitas dinilai cukup baik.

Melihat potensi  jarak pagar dan pertumbuhannya yang baik di Kabupaten Sumba Barat Daya menyebabkan beberapa investor tertarik untuk menanamankan modalnya di daerah ini, namun informasi yang diperlukan oleh investor dan yang diinginkan oleh Pemkab dan masyarakat sangat minim sekali. Untuk   keperluan tersebut Puslitbang Perkebunan telah melakukan sosialisasi dan identifikasi rencana pengembangan jarak pagar di Kabupaten Sumba Barat daya. Sosialisasi dengan Pemkab Sumba Barat Daya, yang diikuti oleh Bupati Sumba Barat Daya, Wakil Bupati, Kepala Dinas Pertanian, Perkebunan dan Kehutanan serta staf. Terungkap bahwa sudah banyak surat izin yang diterbitkan oleh Bupati untuk investor yang akan mengembangkan jarak pagar di daerah ini, namun sampai saat ini tidak ada kegiatan yang berlanjut. Hal ini menyebabkan timbulnya kekurang percayaan Pemkab terhadap rencana investor tersebut, kondisi ini diperburuk oleh rendahnya produktivitas yang ada dipetani akibat penggunaan benih asalan, serta tidak adanya pembeli dari biji yang telah dihasilkan, sehingga masyarakat semakin apriori terhadap komoditi ini. Pada saat sosialisasi tersebut juga disampaikan beberapa informasi yang mungkin dapat memperbaiki image Pemkab terhadap rencana investor mengembangkan jarak pagar di Sumba Barat Daya antara lain;  kebijakan pemerintah terhadap energy nasional khususnya pengembangan Bahan Bakar Nabati (Inpres no. 1 tahun 2006); tersedianya benih unggul; adanya pengawalan teknologi dari lembaga penelitian; ketersediaan teknologi untuk berbagai produk berbahan baku jarak pagar; adanya rencana membangun pilot plant seluas 25–100 ha sebagai pusat pelatihan.  Informasi yang disampaikan mendapat respon positif dari Pemkab, Pemkab mengharapkan bahwa investor yang telah mendapat izin segera melakukan kegiatan riil di lapangan dengan pengawalan teknologi dari Puslitbang Perkebunan, lahan yang tidak sesuai untuk jarak pagar dapat ditanami dengan jenis tanaman minyak yang lain seperti kemiri sunan, perlu keserasian antara pengembangan ternak dengan pengembangan tanaman jarak pagar, izin lahan yang sudah dikeluarkan namun belum ditindak lanjuti oleh pemegang izin, izinnya  dicabut, dan perlu komunikasi yang intensif antara investor dengan Pemkab.
Sosialisasi telah dilakukan pula kepada tokoh masyarakat, yang dihadiri oleh sesepuh adat, anggota/mantan DPRD, kepala desa dan pemuka-pemuka masyarakat. Pertemuan ini  mendapat respon positif dari masyarakat, asal benar-benar dilaksanakan, tidak seperti investor terdahulu. PT. Australia Biofuel untuk tahap awal berencana membangun pilot plant seluas 25–100 ha sebagai pusat pelatihan penerapan teknologi tepat guna. Diharapkan pilot plant ini menjadi tempat rujukan dan pelatihan bagi pengembang atau pelaksana lapangan pada budidaya  jarak pagar dan industrinya.
 
Dari hasil identifikasi areal yang dilakukan di Kecamatan Momboru, diperoleh data bahwa areal pengembangan terletak di beberapa desa pada ketinggian 150–300 m di atas permukaan laut, topografi datar sampai bergelombang dan berbukit. Luas areal diperkirakan mencapai 3.500 ha dan sebagian besar merupakan lahan kosong atau bervegetasi alang-alang, teki, gelagah daun kecil. Sedangkan di daerah relative lebih subur ditemukan berbagai tanaman palawija, hortikultura dan tanaman kemiri sayur. Tanaman kimiri sayur cukup banyak tumbuh di daerah ini dan merupakan salah satu tanaman sumber pendapatan petani. Namun dari luas yang ada diperkirakan 1.050 ha cocok untuk pengembangan jarak pagar dan sisanya dapat ditanaman dengan tanaman penghasil minyak nabati lainnya seperti kemiri sunan (Dibyo Pranowo/Balittri).
 

Optimalisasi Pemanfaatan Bahan Baku Tanaman Industri dan Usaha Meningkatkan Nilai Ekonominya

Bahan baku dari tanaman industri sampai saat ini belum diolah secara optimal, padahal dari bahan baku tersebut dihasilkan bahan baku sampingan ikutannya yang berpotensi diolah menjadi produk lain yang bernilai ekonomis. Bila ini dapat dilakukan kemungkinan besar nilai tanaman industri akan meningkat lebih baik lagi.

Tanaman tebu mulai dibudidayakan di Indonesia sejak tahun 8000 sebelum masehi (SM). Namun baru digunakan sebagai sumber bahan pemanis di Pulau jawa pada zaman Aji Saka sekitar tahun 75 M. Pada abad ke XVII baru berdiri industri gula di sekitar selatan Batavia, yang dikelola oleh orang-orang China bersama para pejabat VOC. Pengolahan gula saat itu masih sangat sederhana. Pada abad XIX , industri gula yang lebih modern yang dikelola oleh orang-orang Eropa mulai bermunculan. Pabrik gula (PG) modern pertama didirikan di daerah Pamanukan (Subang) dan Besuki (Jawa Timur). Pada zaman Culturstesel, Van den Bosch memperlakukan peraturan bahwa semua aktivitas PG dikuasai  oleh pemerintahan colonial Belanda. Kebijakan ini berhasil baik, dimana 10 tahun kemudian gula dari Jawa mampu mendominasi pasar dunia. Perkembangan berikutnya, beberapa PG mulai bermunculan di Jawa dengan dukungan pembangunan infrastruktur besar-besaran terutama dalam penyediaan sarana irigasi.
 
Kebangkitan industri gula di Jawa pada masa itu sebenarnya terkait dengan perubahan teknologi. Sejak Culturstelsel diberlakukan teknologi industri gula Jawa sebagian mengadopsi teknologi pengolahan gula bit di Eropa. Selain itu, dukungan para peneliti di Belanda yang difasilitasi oleh pemerintah ikut terlibat dalam pengembangan industri Gula Jawa. Mereka saling bertukar informasi tentang teknologi prosesing gula tebu dan gula bit. Industri gula Jawa pada akhirnya berkembang cukup pesat dan bahkan menjadi acuan bagi industri gula tebu dunia. Inovasi teknologi prosesing gula tebu yang dimulai abad XIX tersebut, kemudian disempurnakan dengan berbagai inovasi teknologi di Abad XX dan bertahan hingga saat ini. Melalui sejarah panjang tersebut tanaman tebu baru bernilai ekonomis, dengan makin berkembangnya teknologi budidaya dan prosesing hasil.
 
Saat ini nilai tanaman jarak pagar   hanya ditentukan oleh produk minyak yang dihasilkannya, padahal dari produk lain yang berasal dari hasil ikutan pengolahan minyak tersebut seperti ampas sisa pengepresan, gliserol dan sebagainya juga bernilai ekonomi. Setiap menghasilkan 1 ton biosolar dari jarak pagar bersamaan dengan itu dihasilkan antara lain; 6 ton kulit buah (kapsul), 3 ton ampas pengepresan dan 0,18 ton gliserol. Bahan-bahan ini dapat diolah menjadi produk-produk lain yang bermanfaat dan bernilai ekonomis. Kulit kapsul dapat dijadikan  kompos organic, pestisida nabati; ampas pengepresan dapat digunakan untuk pembuatan briket, biogas, kompos dan lain-lain; sedangkan gleserol dapat dijadikan sebagai bahan baku industri kimia dan industri lainnya. Sehingga nilai jarak pagar akan jauh lebih tinggi dibandingkan hanya dari nilai minyaknya saja.
 
Tanaman melinjo (Gnetum gnemon Linn) yang selama ini dikenal dengan emping melinjo, stike dan makanan ringan lainnya. Sebenarnya mempunyai kandungan flavonoid dari senyawa polifenol yang berguna sebagai antioksidan yang dapat menghancurkan radikal bebas dan meningkatkan daya tahan tubuh. Kandungan flavonoid ini menunjukan bahwa buah melinjo berpotensi untuk diolah menjadi produk lain yang bernilai ekonomi lebih tinggi dari sekedar emping melinjo. 
 
Kayumanis (Cinamomum burmanii) hanya dihargai sebagai tanaman penghasil kulit kayumanis, padahal setiap menghasilkan 1 ton kulit kayumanis bersamaan dengan itu diperoleh; 3,75 ton daun dan 5 m3 kayu gergajian, dan 7,5 ton kayu cabang/ranting. Dari daun tanaman kayumanis akan diperoleh minyak atsiri, kayu gergajian dapat digunakan sebagai bahan bangunan, meubiler, dan sebagainya sedangkan kayu cabang/ranting dapat diolah menjadi kayu partikel board. Penggunaan kulit kayumanis di dalam negeri dapat ditingkatkan, selain sebagai bahan penyedap makanan, juga sebagai bahan pencampur minuman kesehatan, obat-obatan dan sebagainya. Saat ini sudah tersedia produk minuman kesehatan yang mencampurkan bubuk kulit kayumanis dengan teh, sirup kayumanis dan lain-lain. Peningkatan konsumsi ini diharapkan dapat meningkatkan nilai ekonomi dari tanaman kayumanis di masa depan. Untuk menjadikan kayu kayumanis bernilai tinggi, harus dimulai dari sejak pemeliharaan tanaman seperti pembuangan cabang dan ranting di batang utama sampai setinggi 4 meter dari permukaan tanah, agar batang berbentuk sempurna, tidak cacat oleh bekas cabang atau ranting. 
 
Hal yang sama juga terjadi pada tanaman gambir, dengan kandungan katechin yang tinggi (>45%) berpotensi untuk diolah menjadi beberapa macam produk. Selain berguna untuk bahan penyamak atau bahan farmasi, katechin sebagai polifenol alami berpotensi untuk dijadikan bahan perekat pada industri kayu lapis. Perekat dari katechin ini lebih ramah lingkungan karena lebih alami dibandingkan dengan perekat sintetis yang berasal dari minyak bumi. Selain itu katechin juga dapat digunakan sebagai bahan baku industri tinta seperti tinta untuk pemilu. Tinta pemilu ini malah diimpor dari India yang diketahui sebagai Negara pengimpor gambir dari Indonesia. Bila dapat diproduksi sendiri di dalam negeri, nilai ekonomi gambir akan meningkat sesuai dengan kegunaannya yang lebih banyak dan beragam.
 
Masih banyak tanaman industri yang sudah dibudidayakan namun harganya masih sangat rendah. Rendahnya harga dari produk tanaman tersebut selain disebabkan oleh mutu yang kurang baik tetapi juga oleh nilai yang diberikan hanya terhadap fungsi utama dari produk tersebut, sedangkan hasil samping sebagai ikutannya sama sekali tidak bernilai hanya dianggap limbah. Oleh sebab itu   teknologi prosesing harus terus berkembang agar diperoleh cara pengolahan yang efisien dan lebih menguntungkan terhadap hasil samping atau bahan ikutan dari tanaman industri tersebut, sehingga dapat dinilai sebagai bahan baku yang berharga dari sebuah industri.  (Yulius Ferry/Balittri)
 

Antioksidan dari Biji Melinjo


Tanaman melinjo (Gnetum gnemon Linn.) merupakan salah satu tanaman yang produknya banyak digemari masyarakat, yang diantaranya berupa daun muda, bunga dan buah muda yang digunakan sebagai sayuran. Namun produk yang terkenal dari tanaman melinjo adalah emping melinjo, berupa kripik yang dibuat dari biji buah yang sudah tua yang biasa dimakan sebagai kudapan, yang di samping rasanya yang enak juga mempunyai kandungan gizi yang cukup tinggi sebagai sumber protein dan mineral. Selain sebagai kudapan yang enak, selama ini emping melinjo dikenal bisa membuat kadar asam urat melonjak, tetapi masalah ini masih kontroversial karena menurut beberapa hasil penelitian di Jepang didapatkan bahwa biji melinjo tidak menyebabkan asam urat meningkat. Penelitian tersebut menyimpulkan, bahwa karena rasanya yang enak orang suka makan emping melinjo goreng dalam jumlah yang banyak, mungkin dari minyak goreng  itulah yang menyebabkan kadar asam urat meningkat, oleh karena itu apabila disiapkan dalam bentuk makanan lain tanpa minyak, nampaknya tidak akan menyebabkan peningkatan asam urat.

Ada yang lebih penting dari semua hal tersebut diatas, yaitu ternyata biji melinjo mempunyai kandungan antioksidan yang tinggi. Antioksidan adalah senyawa yang dapat menetralkan radikal bebas. Radikal bebas merupakan molekul tidak setabil hasil dari proses metabolisme tubuh dan faktor eksternal seperti asap rokok, hasil penyinaran ultra violet, zat kimiawi dalam makanan dan polutan lain.  Radikal bebas ini secara perlahan akan merusak sel, akibatnya tubuh mudah terserang penyakit, organ tubuh tidak bekerja maksimal dan cepat mengalami penuaan dini. Sebenarnya antioksidan ada secara alami di dalam tubuh, namun jumlahnya sedikit dan terus menurun seiring bertambahnya usia, karenanya tubuh perlu tambahan antioksidan dari makanan.

Beberapa penelitian terdahulu melaporkan bahwa dengan mengkonsumsi antioksidan setiap hari dapat mengurangi peluang munculnya penyakit degeneratif dan memperlambat penuaan. Antioksidan tersebut akan merangsang respon imum tubuh sehingga mampu menghancurkan radikal bebas, mempertahankan kelenturan pembuluh darah, mempertahankan besarnya jaringan otak dan mencegah kanker. Dengan mengkonsumsi zat aktioksidan tersebut, berarti kita melindungi sel-sel tubuh dari serangan radikal bebas.Menurut beberapa peneliti Jepang maupun peneliti Indonesia dari Jurusan Agronomi Fakultas Pertanian Universitas Jember, antioksidan dari biji melinjo merupakan flavonoid yang termasuk senyawa polifenol, senyawa ini   dapat tahan selama 5 jam lebih lama daripada vitamin E dan C.

Hasil riset menunjukkan bahwa aktivitas antioksidan ini setara dengan antioksidan sintetik Butylated Hydroxytolune. Sebuah perusahaan dari Jepang yang berlokasi di Bandung saat ini telah mengolah biji melinjo menjadi teh dan tepung yang mempunyai segudang khasiat bagi kesehatan, bahkan di Jepang sendiri biji melinjo telah diolah sebagai obat awet muda (anti-aging).  Kandungan flavonoid ini didapat dari biji melinjo yang kulitnya sudah berwarna merah, oleh karena itu efek antioksidan melinjo juga bisa diperoleh dengan memakan bijinya langsung yang telah diolah, baik yang direbus ataupun yang telah disiapkan dalam bentuk sayur.

Untuk membudidayakan tanaman melinjo tidaklah begitu sulit, karena pada umumnya tanaman melinjo dapat tumbuh baik di daerah-daerah berhawa panas, tetapi dapat juga tumbuh di pegunungan sampai ketinggian 1.200 m dpl asal udaranya tidak terlalu dingin. Begitupun tanaman ini dapat tumbuh pada hampir semua jenis tanah dengan  pH 4 – 6, yang agak poreus, mudah menyarap air, sehingga drainasenya baik. Tanaman ini boleh dikatakan tidak menuntut persayaratan tumbuh yang khusus dan toleran terhadap tanah yang kurang subur maupun udara kering seperti di Gunung Kidul, Yogyakarta.  Walaupun tanaman melinjo tidak menuntut kesuburan tanah yang baik, namun dengan memperhatikan dan mengikuti langkah-langkah budidaya seperti pemilihan lahan yang sesuai, pemilihan bibit, penanaman, perawatan yang mencakup penyiangan, pemangkasan, pemupukan, pengendalian hama dan penyakit, maka akan dapat dicapai keberhasilan dari usahatani tanaman melinjo.  Dengan jumlah tanaman melinjo per Ha sebanyak 400 batang (jarak tanam 5 m x 5 m), hasil panen rata-rata perpohon tanaman yang sudah dewasa (10 – 15 tahun) bisa mencapai 50 kg biji melinjo sekali panen, sehingga produksi yang diperoleh adalah 100 kg/pohon/tahun.

Tanaman melinjo  dapat  ditemui  hampir di seluruh  propinsi  di Indonesia, dengan sentra produksi melinjo terkonsentrasi  di 5(lima) propinsi yaitu (1) Jawa Barat; (2) Jawa Tengah; (3) D.I Yogyakarta; (4) Sumatera Utara; dan (5) D.I Nangru Aceh Darusallam. Oleh karena itu, mengingat bahwa  penyebaran   tanaman  ini  cukup luas, sehingga  biji   melinjo  sebagai    konsumsi    sumber   antioksidan dapat mudah dicari di pasar  dengan harga yang cukup terjangkau oleh masyarakat.  Dengan demikian, masyarakat kelas menengah kebawah dapat dengan mudah mendapatkan sumber antioksidan murah yang penting manfaatnya dalam rangka menjaga kesehatan untuk melawan bahaya radikal bebas.  Balittri telah memiliki 7 aksesi dan ada 2 aksesi yang direncanakan akan dilepas sebagai varietas unggul di koleksi di KP. Sukamulya, Sukabumi.  Koleksi melinko yang paling lengkap di KP. Laing, Solok, Sumbar ada 47 aksesi kebanyakan asal Maluku dan Jawa Barat (Juniaty Towaha/BALITTRI).

 

Potensi Tepung Biji Asam Jawa Sebagai Pengental Cetak Tekstil

   Tanaman asam jawa (Tamarindus indica L.) merupakan tanaman yang berasal dari daerah savana yang gersang di Afrika, yang termasuk famili Leguminosae.  Hampir semua bagian tanaman asam dapat digunakan untuk berbagai keperluan.  Daging buah asam jawa sangat populer, biasa dipergunakan dalam aneka bahan masakan atau bumbu di berbagai belahan dunia. Buah yang muda sangat masam rasanya, dan biasa digunakan sebagai bumbu sayur asam atau campuran rujak. Buah yang telah masak dapat disimpan lama setelah dikupas dan sedikit dikeringkan dengan bantuan sinar matahari, yang biasa disebut asam kawak, merupakan komoditi yang diperdagangkan antar pulau dan antar negara. Selain sebagai bumbu, asam kawak dapat dipergunakan untuk memberikan rasa asam atau untuk menghilangkan bau amis ikan, selain itu biasa digunakan sebagai bahan sirup, selai, gula-gula, dan obat tradisional jamu.

Di samping daging buah, banyak bagian pohon asam yang dapat dijadikan bahan obat tradisional. Daun mudanya digunakan sebagai tapal untuk mengurangi radang dan rasa sakit di persendian, di atas luka atau pada sakit rematik. Daun muda yang direbus untuk mengobati batuk dan demam. Kulit kayunya yang ditumbuk digunakan untuk menyembuhkan luka, borok, bisul dan ruam, adapun tepung bijinya dapat dipergunakan untuk mengobati disentri dan diare.

Biji asam biasa dimakan setelah direndam dan direbus, atau setelah dipanggang. Selain itu, biji asam juga dapat dijadikan tepung untuk membuat kue atau roti, dimana biji  asam  mengandung gizi yang tinggi  antara lain 20% protein, 5,5% lemak, 59% karbohidrat, 13% air, 2,4% abu dan sisanya berupa albuminoid, globatanin serta vitamin B.

Tanaman asam tumbuh baik di daerah savana dan daerah yang memiliki musim kemarau yang panjang, sehingga di Indonesia tanaman ini banyak tumbuh di wilayah Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), adapun  di daerah tropis lembab dengan curah hujan merata sepanjang tahun tanaman ini tidak mampu berbunga. Tanaman asam dapat tumbuh pada tanah berpasir atau tanah liat dengan drainase baik, mulai dari dataran rendah sampai dataran tinggi dengan ketinggian ± 1.000 m dpl. 

Asam jawa  termasuk tumbuhan berbuah polong, dengan buah polongnya berwarna coklat dengan rasa khas asam, di dalam buah polong selain terdapat kulit yang membungkus daging buah, juga terdapat biji berjumlah 2 - 5 yang berbentuk pipih dengan warna coklat agak kehitaman. Tanaman asam dapat memperindah dan peneduh pekarangan rumah, jalan-jalan di dalam kota dan jalan raya, serta dapat pula dijadikan sebagai tanaman penghijauan dan tanaman penahan angin, dapat memperbaiki lingkungan yang gersang dan tandus karena termasuk kerabat legiminosae dan mempunyai sifat tahan terhadap kekeringan.      

Saat ini tepung biji asam sangat berperan dalam industri tekstil Indonesia, yaitu sebagai pengental cetak tekstil. Untuk itu Indonesia masih mengimpor tepung biji asam dari India lantaran ketiadaan tepung ini di tanah air. Dengan tepung biji asam sebagai pengental, mendapatkan hasil kekakuan kain dan kekuatan warna yang lebih baik daripada pengental komersial yang beredar dipasaran, adapun kelebihan lainnya dari tepung ini adalah tidak bereaksi dengan serat kain maupun zat warna. 

Indonesia sebagai negara yang berlimpah agro raw material dengan berbagai ragam kekayaan nabatinya, seharusnya tidak usah mengimpor tepung biji asam dari India, karena Indonesia memiliki pertanaman asam yang luas di Propinsi NTT yang tersebar di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Timor Tengah Utara (TTU), Manggarai dan Manggarai Timur, yang sangat potensial sebagai penghasil tepung biji asam. Tinggal sekarang bagaimana political will dari pemerintah untuk memberdayakan, sehingga jika potensi asam di Propinsi NTT dimanfaatkan secara baik, maka industri tekstil di Indonesia tidak harus bergantung pada pasokan tepung biji asam dari India. Dengan mengembangkan industri tepung biji asam sendiri, harganya dapat lebih murah karena produksi dalam negeri, juga lebih efektif dari aspek waktu karena proses pengiriman barang hanya dalam skala antar pulau, begitupun dapat menghemat devisa negara yang berdampak positif pada perkembangan perekonomian Indonesia.

Berdasarkan data Dinas Perkebunan dan Kehutanan Propinsi NTT, di propinsi tersebut  terdapat potensi sebanyak 3.000 ton biji asam pertahun atau setara dengan 2.700 ton tepung biji asam pertahun.  Dari jumlah potensi tersebut sebanyak 80% diperoleh dari pertanaman asam jawa dari Kabupaten TTS yang mempunyai pertanaman terluas di Propinsi NTT.  Hampir sebagian besar hutan di Kabupaten TTS didominasi oleh pohon asam,  dimana pohon asam tumbuh dengan sendirinya tanpa adanya unsur kesengajaan untuk menanamnya. Beruntung, pohon asam tidak rewel seperti tanaman yang lain, di hutan-hutan pohon asam tumbuh secara alamiah, kokoh berdiri tidak perlu dirawat. Menjelang musim panen, yakni pada bulan Agustus, September dan Oktober masyarakat ramai-ramai masuk keluar hutan memburu asam, pohon asam di hutan tidak punya pemilik,  siapa saja bebas memetik dan atau memungut buahnya yang jatuh ke tanah.  Selama ini masyarakat TTS mengolah buah asam menjadi asam kawak, dengan produksi asam kawak mencapai 2.000 – 3.000 ton pertahun. 

Sangatlah bijak  bila pemerintah memberdayakan potensi  biji asam jawa di NTT, tidak hanya sekedar dimanfaatkan untuk makanan ternak, tetapi diolah menjadi komoditas  yang mempunyai nilai tambah tinggi,  yaitu dengan membangun industri pengolahan tepung biji  di propinsi tersebut. Teknologi proses pengolahan biji asam menjadi tepung sangat sederhana, yaitu dimulai dengan seleksi biji asam, penyanggraian, pengelupasan kulit, pemasakan biji, pengeringan sampai proses penggilingan/penghalusan dengan  ukuran 100 mesh. Karenanya, industri ini dapat dilakukan pada skala rumah tangga maupun UMKM (Usaha Mikro Kecil dan Menengah), dan sudah menjadi tanggung jawab pemerintah untuk menyediakan teknologi maupun alih teknologinya, berikut bantuan permodalan melalui kredit perbankan berbunga lunak. Dan mengingat bahwa industri skala rumah tangga maupun UMKM merupakan  industri padat karya, maka industri pengolahan tepung biji asam akan menyerap banyak tenaga kerja yang berdampak pada peningkatan ekonomi masyarakat. Untuk jangka panjang, dalam menjamin ketersediaan bahan baku dan kesinambungan industri ini, harus sudah direncanakan pengembangan budidaya tanaman ini kedepan yang dilakukan secara komersial dan profesional

Dahulu kabupaten TTS pernah berjaya dengan komoditi cendana, yang kini secara ekonomis cendana telah tenggelam, selain itu TTS juga pernah harum namanya karena buah apel SoE, tetapi kini apel tersebut telah ikut tenggelam juga. Dengan mempunyai asam jawa dengan berbagai potensinya, maka cepat atau lambat, asam jawa akan dapat mengangkat kembali nama Kabupaten TTS, berikut diharapkan dapat mendongkrak kesejahteraan masyarakatnya ketingkat yang lebih baik  (Juniaty Towaha/email:balittri@gmail.com). 

Potensi Bambu Sebagai Tanaman Konservasi Daerah Aliran Sungai

 Degradasi lahan di Indonesia, khususnya di Daerah Aliran Sungai (DAS) pada bagian hulu dan terlebih lagi pada bagian hilir lajunya terus meningkat dan bahkan terkesan tidak terkendali.  Yang berdampak merusak pada tatanan siklus hidrologi, sehingga ketika musim  penghujan  sering  terjadi banjir,  dan  saat  musim  kemarau terjadi  krisis  air.  Harus  disadari bahwa tindakan konservasi  alam dalam rangka pemulihan hutan dan lahan serta fungsi DAS dengan menggunakan tanaman  kayu  sangat  mahal  dan  membutuhkan perawatan maupun waktu yang lama.  Menyikapi kondisi demikian, pemerintah perlu melakukan kebijakan jangka pendek untuk mengatasinya, adapun langkah bijaksana yang dapat diambil dalam jangka pendek terutama untuk melindungi DAS adalah dengan menggunakan bambu sebagai tanaman konservasi.

Selain memiliki keunggulan untuk memperbaiki sumber tangkapan air yang sangat baik, sehingga mampu meningkatkan water storage (cadangan air bawah tanah)   secara nyata, maka pertimbangan menggunakan bambu sebagai tanaman konservasi adalah karena bambu merupakan tanaman yang mudah ditanam serta memiliki pertumbuhan yang sangat cepat,   tidak membutuhkan perawatan khusus, dapat tumbuh pada semua jenis tanah,   tidak membutuhkan  investasi besar,   sudah  dewasa  pada  umur  3  –  5 tahun dan dapat di panen setiap tahun tanpa merusak rumpun serta memiliki toleransi tinggi terhadap gangguan alam  dan kebakaran. Disamping itu,   bambu juga memiliki kemampuan peredam suara yang  baik  dan  menghasilkan  banyak  oksigen  sehingga  dapat ditanam  di daerah pemukiman maupun dipinggir jalan raya.
Tanaman bambu mempunyai sistem perakaran serabut dengan akar rimpang yang sangat kuat, meskipun berakar serabut pohon bambu sangat tahan terhadap terpaan angin kencang. Perakarannya tumbuh sangat rapat dan menyebar ke segala arah, serta memiliki struktur yang unik karena terkait secara horizontal dan vertikal, sehingga  tidak  mudah  putus  dan  mampu  berdiri  kokoh  untuk menahan erosi dan tanah longsor di sekitarnya, disamping itu lahan di bawah tegakan bambu menjadi sangat stabil dan mudah meresapkan   air. Dengan   karakteristik   perakaran   seperti   itu, memungkinkan tanaman ini menjaga sistem hidrologis yang menjaga ekosistem    tanah  dan  air, sehingga  dapat  dipergunakan  sebagai tanaman konservasi.
Kecepatan pertumbuhan bambu dalam menyelesaikan masa pertumbuhan vegetatifnya merupakan tercepat dan tidak ada tanaman  lain  yang  sanggup   menyamainya.   Dari beberapa hasil penelitian, kecepatan pertumbuhan vegetatif bambu dalam 24 jam berkisar 30 cm – 120 cm tergantung dari jenis- nya. Sebuah   keajaiban pertumbuhan yang tidak dapat ditemukan pada tanaman  lain.  Selain  itu, bambu memiliki umur yang panjang dalam siklus hidupnya, dapat mencapai  30 - 100 tahun bahkan lebih tergantung dari jenisnya.
Bambu juga tahan kekeringan dan bisa tumbuh baik di lahan curam,  sehingga bambu mempunyai potensi untuk menahan long- sor. Walaupun kadang-kadang dijumpai banjir atau tanah longsor yang menghanyutkan rumpun bambu. Itu bisa terjadi pada rumpun bambu yang tumbuh soliter (rumpun tersendiri). Kalau bambu ditanam   berderet   menyerupai   teras   pada   sebuah   lereng   dan membentuk sabuk gunung, dimana akar bambu akan saling terkait dan mengikat antar rumpun, maka kekuatannya sangat luar biasa. Rumpun bambu berikut serasah di bawahnya juga mampu menahan top soil   hingga tidak hanyut tergerus run off air hujan. Sehingga kemampuan   tanaman   bambu   untuk   mencegah   erosi   maupun longsor dapat diandalkan.
Bambu merupakan salah satu jenis tanaman perintis, sehingga untuk tumbuh tidak membutuhkan persyaratan tumbuh yang teramat rumit sebagaimana tanaman lain. Adapun syarat tumbuh yang baik untuk pertumbuhan bambu adalah sebagai berikut : (1)  pada semua jenis tanah terutama jenis tanah dengan tekstur berpasir sampai berlempung, berdrainase baik,   pH tanah yang dikehendaki antara 5,6 – 6,5; (2)  pada dataran rendah maupun dataran tinggi  hingga ketinggian 1.500 m dpl; (3) dengan iklim tipe A hingga C (Schmidt – Ferguson) dengan suhu udara 270   – 360 C dan kelembaban udara ± 80 %, walaupun demikian bambu dapat tumbuh di lahan sangat kering  dengan  tipe  iklim  D  seperti  di  kepulauan  Nusa  Tenggara Timur.
Perbanyakan tanaman bambu yang biasa dilakukan adalah dengan  cara  vegetatif  melalui  stek  batang  atau  stek  rhizoma. Adapun  untuk mendapatkan bibit secara massal dalam waktu relatif singkat  dengan  cara  mudah  dan  biaya  murah  adalah  dengan menggunakan metoda perbanyakan cangkokan cabang/ranting. Bahan untuk mencangkok berupa kantong plastik bening ukuran 0,5 kg dengan media sabut kelapa. Sabut direndam air, lalu dimasukkan ke dalam kantong plastik,. setelah dipadatkan dan ujungnya diikat, kantong berisi media disayat sebagian. Pangkal cabang yang akan dicangkok dimasukkan ke bagian yang tersayat lalu diikat erat-erat. Dalam  waktu  kurang  dari  satu  bulan  akar  sudah  tumbuh,  dan cabang baru bisa diambil setelah akar yang kelihatan pada bungkus plastik itu berwarna coklat,  ujung cabang dipotong tinggal 1,5 meter sebelum disemai di polybag.
Berdasarkan sifat karakteristik tanaman bambu tersebut, maka beberapa negara Asia seperti China dan India telah menggunakannya sebagai tanaman utama konservasi tanah dan air, yang   selain   untuk   memperbaiki   dan   meningkatkan   sumber tangkapan  air  serta mencegah erosi,  juga mampu meningkatkan ekonomi masyarakat melalui aneka kerajinan serta kebutuhan konstruksi.  Hasil studi Akademi Kehutanan Beijing (1998)  yang melakukan studi banding pada hutan pinus dan bambu pada beberapa DAS di China, mendapatkan bahwa hutan bambu mampu menambah  240%  air  bawah  tanah  lebih  besar  dibanding  hutan pinus.  Saat ini dari seluas 4,3 juta ha hutan bambu yang telah ditanam di China, telah mampu menghasilkan bambu sebanyak 14,2 juta ton/tahun yang memberi kontribusi yang positif terhadap perekonomian masyarakatnya.
Utthan Centre sebuah LSM di India, pada tahun 2004 telah melakukan penanaman hutan bambu seluas 106 ha dalam upaya konservasi  pada lahan bekas penambangan batu, dimana dalam jangka waktu 4 tahun permukaan air bawah tanah meningkat 6,3 meter dan seluruh areal penanaman menghijau serta memberi pekerjaan kepada sekitar 80% penduduk setempat melalui industri kerajinan  bambu.  Dengan  demikian,  dari  sisi ekologis  tanaman bambu memiliki kemampuan menjaga keseimbangan lingkungan karena sistem perakarannya dapat mencegah erosi dan mengatur tata air. Dan dari sisi ekonomi, tanaman bambu mampu memberikan peningkatan pendapatan masyarakat di sekitarnya dalam waktu 3-5 tahun setelah tanam, waktu yang relatif cepat apabila dibandingkan dengan komoditas kayu.
Oleh karena itu, keberhasilan upaya konservasi tanah dan air melalui   penanaman   bambu   di   China   maupun   India,   sudah seharusnya memberikan dorongan bagi Indonesia untuk melakukan gebrakan secara nasional untuk menyelamatkan sumber daya alam hutan dan lahan khususnya DAS dan sumber tangkapan air lainnya, dengan melakukan gerakan konservasi menggunakan tanaman bambu, sehingga  kedepan   ancaman   banjir  maupun   longsor dimusim   penghujan   serta   krisis   air   dimusim   kemarau   dapat dieliminir, berikut dapat meningkatkan nilai tambah pendapatan masyarakat disekitarnya melalui pengembangan industri berbasis bambu (Usman Daras dan Juniaty Towaha/Email:balittri@gmail. com).
 

Peran Penelitian Perkebunan dalam Mendukung Pelaksanaan Program Kementerian Pertanian

Dihadapkan pada berbagai perubahan dan perkembangan lingkungan yang sangat dinamis serta  persoalan mendasar di  sektor  pertanian seperti meningkatnya jumlah penduduk; tekanan  globalisasi dan  permintaan pasar; pesatnya kemajuan teknologi dan informasi; makin terbatasnya sumberdaya lahan, air dan energi; perubahan iklim global; perkembangan dinamis sosial budaya masyarakat; kecilnya status dan luas kepemilikan lahan; masih terba- tasnya kemampuan sistem perbenihan dan perbibitan nasional, terbatasnya akses petani terhadap permodalan; masih lemahnya kapasitas kelembagaan petani dan penyuluh; masih rawannya ketahanan pangan dan energi; masih rendahnya nilai tukar petani dan kurang harmonisnya koordinasi kerja antar sektor terkait pembangunan pertanian maka pembangunan pertanian ke depan menghadapi banyak tantangan.

Peran penelitian menjadi sangat penting untuk menghadapi tantangan- tantangan tersebut, terutama penyediaan benih dan bibit unggul bermutu, teknik budidaya yang lebih maju dan teknologi prosesing yang makin beragam yang dapat meningkatkan nilai tambah dan metode alih teknologi yang cepat dari teknologi yang tepat guna.

KONDISI UMUM PEMBANGUNAN PERTANIAN

Secara  umum  harga  komoditas pangan  dalam  negeri  lebih  stabil  jika dibandingkan dengan harga internasional. Di sisi lain, surplus produksi beras memberikan peluang bagi Indonesia untuk mengekspor beras, yang   sudah barang tentu akan meningkatkan pendapatan petani dan citra pertanian Indone- sia. Selain produksi padi yang meningkat dan bahkan mencapai swasembada, selama periode pembangunan lima tahun terakhir, pembangunan pertanian juga mencatat sejumlah keberhasilan seperti: peningkatan produksi beberapa ko- moditas pertanian, ketersediaan energi dan  protein, membaiknya skor Pola Pangan Harapan (PPH), dan semakin banyaknya hasil penelitian dan pengem- bangan pertanian. Selama tahun 2005-2008, rata-rata pertumbuhan produksi yang cukup tinggi setiap tahunnya ditunjukkan oleh tebu (3,82%), kelapa sawit (8,88 %), kakao (2,24%), daging sapi (5,53%), daging ayam broiller (6,52%), mangga (14,22%), durian (8,77%), bawang merah (5,23 %) dan anggrek (28,79%). Ketersediaan energi dan protein per kapita meningkat sebesar 0,45% untuk energi dan 1,98% untuk protein. Skor Pola Pangan Harapan (PPH) men- ingkat dari 74 pada tahun 2006 menjadi 81,9 pada tahun 2008. Sektor perkebu- nan dapat membuka kesempatan kerja baru sekitar 300 ribu tenaga kerja perta- hun, pendapatan petani terus mengalami peningkatan diharapkan sampai tahun 2011 menjadi US$ 1.660/KK/Th/2ha dengan nilai tukar petani pekebun sebesar 106,7 % dan penerimaan ekspor US$ 37,52 milyar. Di bidang penelitian dan pengembangan, telah dihasilkan 191varietas unggul padi, 46 varietas unggul jagung, dan 64 varietas unggul kedelai, serta inovasi pola tanam, pemupukan,bioteknologi, PHT, alat mesin pertanian, dan lain sebagainya.

PERAN PENELITIAN PERKEBUNAN DALAM PEMBANGUNAN PERTANIAN.

Selama lima tahun ke depan (2010 – 2014) pembangunan pertanian di Indonesia, Kementerian Pertanian mencanangkan 4 (empat) target utama yaitu: (1) Pencapaian swasembada dan swasembada berkelanjutan, (2) Peningkatan diversifikasi pangan, (3) Peningkatan nilai tambah, daya saing dan ekspor serta (4) Peningkatan kesejahteraan petani.

Dalam pencapaian swasembada dan swasembada berkelanjutan, peneli- tian akan sangat berperan dalam penyediaan varietas-varietas dengan tingkat produktivitas yang tinggi dan berumur genjah. Ketersediaan lahan pertanian yang semakin sempit dan ekstensifikasi yang akan terbatas memkasa menca- paian produksi sebagaian besar   ditempuh dengan cara intensifikasi. Ket- ersediaan varietas berumur genjah pada padi dapat meningkatkan intensitas panen  sampai  400%.  Lembaga  Penelitian  Pertanian  telah  menghasilkan 191varietas unggul padi, 46 varietas unggul jagung, dan 64 varietas unggul kedelai. Perbanyakan benih tebu secara kultur jaringan juga sudah diperoleh dan ini akan menjamin ketersediaan benih unggul secara massal dan berkesi- nambungan. Teknologi pemupukan berimbang yang sesuai dengan daerahnya. Teknologi penyediaan pupuk organik berbasis bahan baku local. Ternak yang berdaya produksi tinggi dan teknologi pakan ternak akan menunjang target sector pertanian dalam penyediaan daging sapi 0,55 ton/tahun.

Dalam peningkatan diversifikasi pangan, penelitian terus berusaha menda- patkan teknologi pengolahan hasil, seperti pengolahan tepung tapioca, sagu dan umbi-umbian lainnya menjadi makanan yang lebih baik (mie, roti, kue,bakso dan sebagainya), sehingga target penurunan konsumsi beras sebesar 3% dapat tercapai.

Dalam peningkatan nilai tambah, daya saing dan ekspor, penelitian akan dapat menyediaan teknologi hilir yang berbasis komoditas seperti pengolahan tepung dari beras, singkong, sagu dan ganyong. jagung dan kedele, susu, mete, lada bubuk, lada hijau, biodiesel, bioavtur, minyak gosok, sabun dari jarak pagar dan kemiri sunan, tinta dan lem kayu dari gambir, produk turunan dari CPO dari kelapa sawit,formula makanan bayi dari kelapa, minyak atsiri dan turunan dari nilam, sereh wangi dan akar wangi, obat herbal untuk ternak dari jahe, kunyit dan tanaman obat lainnya,   pakan ternak skala kecil; pengolahan produk pangan fermentasi dan non fermentasi, derivasi produk.

Sedangkan peningkatan kesejahteraan petani, selain ditempuh dengan peningkatan produktivitas tanaman pangan tetapi juga ditempuh dengan pen ingkatan produktivitas dan diversifikasi produk dari tanaman perkebunan seba- gai  komoditas ekspor dan  penyedia bahan baku sector industry. Penelitian perkebunan difokuskan pada 15 komoditas strategis yang menjadi unggul na- sional yaitu karet, kelapa sawit, kelapa, kakao, kopi, lada, jambu mete, teh, cengkeh, jarak pagar, kemiri sunan, tebu, kapas, tembakau dan nilam. Hasil- hasil penelitian dari komoditas di  atas telah menunjukan peningkatan yang cukup berarti. Penelitian telah menghasilkan klon karet dengan produksi dan mutu yang tinggi; varietas kelapa sawit dengan produktivitas > 40 ton/ha/tahun TBS segar, kelapa sawit varietas dumpy yang tahan naungan sehingga dapat digunakan pada peremajaan secara bertahap; penyediaan benih kelapa dari kebun induk komposit, benih kelapa kopyor cara kultur jaringan; kakao dengan perbanyakan kultur jaringan yang dapat menyediaakan benih secara massal dengan mutu yang tinggi; kopi toleran terhadap serangan nematoda, hamelia fastatrik; lada hibrida tahan penyakit busuk pangkal batang, lada hibrida dengan produktivitas mencapai 6 ton/ha/tahun lada kering; varietas jambu mete pro- duksi tinggi toleran terhadap serangan hama helopeltis; teh dengan kadar kate- chin tinggi; varietas cengkeh Afo, karo, dan varietas unggul local; penyediaan bahan tanaman tebu secara massal dan murah melalui kultur jaringan dan somatic emryogenensis; varietas kapas Kanisia sampai pada Kanisia 15 den- gan serat yang lebih panjang dan produktivitas tinggi; varietas-varietas tem- bakau spesifik daerah, kadar nikotin yang rendah;  perbanyakan nilam dengan cara kultur jaringan dan SE; jarak pagar IP3, jarak pagar hibrida sebagai bahan baku bioavtur dimasa depan; dan aksesi kemiri sunan dengan produktivitas dan rendemen minyak yang tinggi, sebagai sumber bahan nabati yang tidak ber- saing dengan pangan, cara peremajaan kelapa sawit rakyat yang mudah dan murah, teknologi remidiasi lahan bekas tambang timah untuk budidaya tanaman lada di Bangka.  Serta inovasi pola tanam, pemupukan, bioteknologi, PHT, alat mesin pertanian, pengolahan hasil dan lain sebagainya. Merupakan hasil penelitian sebagai inovasi yang dapat menunjang peningkatan petani. Sedang- kan dalam rangka koordinasi penelitian  perkebunan agar lebih efisien, efektif dan tepat guna  Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan telah ditun- juk sebagai satu-satunya lembaga koordinator pernelitian perkebunan di Indo- nesia.

Peran penelitian adalah sebagai inovasi pendorong peningkatan swasembada, diversifikasi pangan, peningkatan nilai tambah, daya saing dan ekspor, serta meningkatkan kesejahteraan petani (Yulius Ferry/Balittri)

 

 

Kelembagaan Perbenihan Perkebunan

  Terjadinya adopsi benih unggul oleh petani pekebun merupakan hasil dari rangkaian kegiatan dan peristiwa yang dimotori oleh ‘lembaga perbenihan perkebunan’. Lembaga yang dimaksud dalam hal ini adalah organisasi, para pihak, peraturan, prosedur maupun rangkaian sumberdaya dan produk yang terkait dengan produksi dan distribusi benih (lihat Matriks).   Dalam arti sempit, lembaga perbenihan perkebunan paling tidak terdiri atas lembaga penghasil varietas, lembaga produsen dan benih unggul, lembaga distributor benih, lembaga pengguna benih dan  lembaga sertifikasi dan pengawasan benih

Penghasil varietas yang utama adalah para pemulia yang bekerja di berbagai lembaga penelitian perkebunan baik lembaga pemerintah seperti Puslitbang Perkebunan ataupun perusahaan-perusahaan swasta selain juga lembaga lainnya seperti Pemerintah Daerah bahkan juga para pemulia yang secara mandiri melaksanakan pemuliaan tanaman, seperti para petani yang peduli terhadap peningkatan mutu benih.
   
    Pada umumnya para pemulia memiliki koleksi plasma nutfah yang diperoleh dari eksplorasi dari berbagai daerah di seluruh dunia. Dengan plasma nutfah yang tersedia pemulia melaksanakan karakterisasi, evaluasi genetik  dan seleksi terhadap aksesi yang diperkirakan memiliki keunggulan tertentu sebagai sumberdaya genetika. Pemulia pada umumnya menindaklanjuti dengan hibridisasi untuk memperoleh individu yang unggul, maupun pengembangan calon varietas melalui bioteknologi seperti pengembangan varietas mutan atau varietas transgenik. Bahkan jika hasil dari seleksi tersebut telah didapatkan individu yang diduga unggul maka individu tersebut dapat dijadikan calon varietas untuk uji adaptasi dapat dilaksanakan.

    Calon varietas yang telah teruji keunggulannya dari hasil uji adaptasi yang dilaksanakan di tiga lingkungan dalam masa tiga periode, dapat diusulkan untuk pengujian varietas (oleh Tim Penilai) untuk menyaring kebenaran keunggulan dari calon varietas yang bersangkutan agar dapat  dikukuhkan oleh Menteri Pertanian dengan penerbitan Surat Keputusan  Pelepasan Varietas.  Varietas yang dilepas harus memiliki materi untuk perbanyakan sehingga dapat dihasilkan benih sumber dalam jumlah yang cukup sebagai sumber benih bagi para penangkar yang ingin mengkomersialkan varietas tersebut.

    Produsen benih (penangkar benih) adalah lembaga yang menghasilkan benih sebar  melalui perbanyakan tanaman dari varietas-varietas yang telah dilepas oleh Menteri Pertanian. Produsen benih merupakan lembaga yang mentransformasi hasil pemuliaan menjadi benih komersial, sehingga pada umumnya merupakan lembaga bisnis baik usaha mikro, kecil, menengah maupun besar. Perbanyakan benih yang dilakukan oleh produsen benih dapat dilaksanakan melualui perbanyakan konvensional seperti biji, stek, cangkok, okulasi, dan penyambungan (grafting) ataupun yang non konvensional seperti perbanyakan yang berbasis pada kultur jaringan baik organogenesis ataupun embriogenesis somatik.

    Pada umumnya distribusi benih perkebunan dilakukan sekaligus oleh penangkar benih, apalagi untuk benih yang berbentuk bukan biji atau bibit tanaman. Bahkan untuk perkebunan besar perbenihan dikelola langsung oleh pengguna atau integrasi vertikal, untuk mendorong efisiensi penanaman dan peremajaan atau untuk menekan biaya investasi.

    Sebelum benih didistribusikan kepada pekebun, benih tersebut harus memiliki jaminan mutu. Oleh karena itu lembaga sertifikasi dan pengawasan benih (pemerintah) berperan untuk melakukan penjaminan mutu, dengan memberikan label benih sebagai tanda bahwa benih yang diedarkan tersebut merupakan benih yang sudah lulus dari pengujian mutu benih terutama yang terkait dengan keaslian varietas dan daya tumbuh benih (Agus Wahyudi, e-mail : agus_w@lycos.com).
 

 

Polling

Apakah Situs Web Ini Informatif ?
 

Highlights

Kalender Tanam
Portal Multimedia Deptan
Suplemen Sinar Tani
PPID
Newsletter

Online

Terdapat 2 Tamu online

Forum Litbang

Download

Statistik

Jumlah Kunjungan Konten : 139367

Info Teknologi

INTENSITAS CAHAYA PADA PEMBIBITAN KOPI

Tanaman kopi merupakan tanaman yang membutuhkan naungan sepanjang hidupnya. Tingkat naungan  tersebut berbeda-beda  sesuai dengan fase pertumbuhan tanaman kopi, pada fase pembibitan atau umur muda tingkat naungan yang dibutuhkan lebih tinggi diband [ ... ]


PETANI DI BABEL MASIH MENGGUNAKAN TAWAS SEBAGAI KOAGULAN LATEKS

article thumbnail

Anjloknya harga karet  Indonesia akhir-akhir ini berkaitan erat dengan   kualitas bokar  (bahan olah  karet)  yang  diproduksi  oleh  petani,  dimana dalam  pengolahan  bokar-nya  masih  banyak petani  karet  yang  mempergunakan  ba [ ... ]


KEUNGGULAN KARET ALAM DIBANDING KARET SINTETIS

article thumbnail

Karet alam merupakan salah satu komoditi perkebunan yang sangat penting peranannya dalam perekonomin Indonesia. Selain sebagai sumber pendapatan dan kesejahteraan masyarakat serta sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi sentra-sentra baru di wilayah s [ ... ]


MENGENAL 4 MACAM JENIS TEH

Siapa yang tidak kenal dengan teh?  minuman teh merupakan minuman penyegar  yang paling populer dan paling banyak dikonsumsi di dunia, setelah air putih. Teh diproduksi dari pucuk daun muda tanaman teh (Camelia sinensis). Produk daun teh dapat menj [ ... ]


PROSES PENGOLAHAN LIMBAH JAMBU METE, KAKAO, DAN KOPI UNTUK PAKAN PENGUAT RANSUM TERNAK

Tanaman jambu mete, kakao dan kopi di samping menghasilkan produk utama berupa kacang atau biji, juga menghasilkan produk sampingan limbah berupa buah semu mete, cangkang kakao dan kulit buah kopi. [ ... ]


Artikel Lainnya

Internal Balittri

Sosialisasi Tindak Lanjut Reformasi Birokrasi
21/05/2013 | Administrator
article thumbnail

Suatu organisasi yang baik perlu didukung oleh Sumber Daya Manusia ideal. Konsep PNS yang ideal adal [ ... ]


Seminar Bulanan Balittri : Status dan Teknologi Pemuliaan Teh
07/05/2013 | Administrator
article thumbnail

Strategi pemuliaan Tanaman Teh antara lain, pengelolaan Plasma Nutfah, Membangkitkan Keragaman Genet [ ... ]


Kegiatan Seminar Bulanan Balittri 2012
07/05/2012 | Administrator
article thumbnail

Pada hari selasa tanggal 1 Mei 2012 diadakan kegiatan seminar bulanan Balittri yang kali ini menam [ ... ]


Artikel Lainnya

SDM Profesional

Ir. Yulius Ferry merupakan Peneliti Ekofis

Dialog Interaktif

 

Joomla Templates by JoomlaVision.com