Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com

Highlights

Newsletter
perpus_digital
Kalender Tanam
PPID

Video

Download

Online

Terdapat 2 Tamu online

Statistik

Jumlah Kunjungan Konten : 165273

Polling

Apakah Situs Web Ini Informatif ?
 

Forum Litbang

Bahan Tanam Unggul Kopi PDF Cetak E-mail
Kopi
Oleh Administrator   
Senin, 04 Februari 2013 07:53

 

BAHAN TANAM UNGGUL KOPI

Peranannya dalam Sistem Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman Secara Terpadu

 

PENDAHULUAN

 Salah satu penyebab rendahnya produktivitas kopi arabika di Indonesia pada saat ini adalah belum digunakannya bahan tanam unggul tahan penyakit karat daun dan atau tahan serangan nematoda parasit. Kedua organisme pengganggu tanaman (OPT) tersebut secara terpisah maupun bersama dapat mengakibatkan penurunan hasil kopi sampai 60 persen dari potensi yang ada (Wiryadiputra, 1997). Serangan penyakit karat daun oleh jamur  Hemileia vastatrix B. Et Br. (HV) pada kopi lebih banyak terjadi pada jenis kopi arabika, demikian pula dengan jenis nematoda Radhopolus similis, walaupun jenis nematoda tersebut juga mampu menyerang kopi robusta. Oleh karena itu apabila dikaitkan dengan pangsa pasar kopi di dunia adalah jenis arabika, selain karena memiliki citarasa lebih baik, juga kelangkaan ketersediannya dibanding kopi robusta, sebagai akibat kerentanannya terhadap serangan kedua jenis OPT tersebut.

Selama ini untuk mengatasi serangan kedua OPT tersebut lebih banyak dilakukan dengan pengendalian secara kimiawi. Cara tersebut selain mahal juga kurang ramah lingkungan, karena fungisida dan nematisida yang digunakan untuk membunuh jamur HV dan nematoda parasit ternyata juga membunuh musuh alami, bahkan dimungkinkan pula dapat menimbulkan efek samping pada produk kopi bijinya. Oleh karena itu salah satu upaya peningkatan produktivitas kopi adalah dengan menggunakan bahan tanam ungggul tahan kedua jenis OPT tersebut. Dengan cara ini diharapkan akan tercipta sistem pengendalian yang awet, lebih ekonomis serta tidak menimbulkan dampak lingkungan, karena terciptanya keseimbangan piramida OPT (inang-patogen-kondisi lingkungan dan manusia).

Dengan semakin maraknya usaha sebagai penangkar bibit tanaman unggul kopi, demikian pula kaitannya dengan peran bahan tanam unggul dalam sistem pengendalian OPT secara terpadu, mengenal penciri varietas maupun klon anjuran dari bukan varietas/klon anjuran merupakan salah satu modal utama agar terhindar dari penggunaan bahan tanam unggul palsu yang tidak dianjurkan. Dalam tulisan ini akan dijelaskan peran bahan tanam unggul kopi dalam mengendalikan serangan OPT kopi secara terpadu serta beberapa cara mengenali penciri varietas/klon anjuran kopi arabika dan klon anjuran kopi robusta sebagai dasar untuk melakukan pemurnian serta pembenahan komposisi pertanaman kopi, sehingga diharapkan pekebun akan terhindar dari penggunaan bahan tanam unggul palsu.

SIFAT AGRONOMI KOPI ARABIKA DAN ROBUSTA

Meskipun sebenarnya kopi terdiri dari beberapa jeis, namun yang memiliki arti ekonomi penting hanya Coffea arabica L. (kopi arabika) dan Coffea canephora Pierre (Kopi robusta). Kedua jenis kopi tersebut selain berbeda perawakannya juga berbeda sifat penyerbukannya, sehingga cara budidaya serta pengolahannya agar menjadi kopi bermutu tinggi pun berbeda.

Kopi arabika mempunyai cara penyerbukan yang disebut menyerbuk sendiri, sehingga agar produktivitasnya optimal perbanyakan tanamannya dapt dilakukan dengan benih, tetapi pada kopi robusta penyerbukan bunga disebut menyerbuk silang, sehingga perbanyakan tanaman lebih baik dilakukan secara klonal, sedangkan penanamannya disusun secara poliklonal. Perbanyakan kopi robusta secara generatif sebaiknya menggunakan benih hibrida atau benih varietas sintetik. Perbanyakan tanaman kopi robusta yang diambil dari pohon yang berbuah lebat belum tentu menghasilkan tanaman yang berbuah lebat serta tahan OPT pula, hal ini karena terjadi pemisahan sifat baik dari kedua orang tuanya.

Apabila dicermati, keragaan tanaman kopi arabika berbeda dengan kopi robusta, sehingga kita lebih mudah dan lebih cepat mengenal serta mencirikannya. Antar varietas kopi arabika juga lebih mudah dicirikan, tetapi antar klon pada kopi robusta lebih sulit dikenali karena sifat menyerbuk silang dari jenis kopi tersebut, serta masih cukup dekatnya hubungan kekerabatan di antara klon itu sendiri.

Dalam kaitannya dengan sifat-sifat agronomi kopi, penggunaan bahan tanam anjuran memerlukan beberapa tttahap pengelolaan budidaya yang saling terkai dan perlu diperhatikan, yaitu :

  1. Memilih varietas /klon anjuran sesuai kondisi agroklimat daerah penanaman.
  2. Teknik agronomi (budidaya) yang dipilih disesuaikan dengan kondisi topografi maupun ketinggian tempat penanaman, seperti pengaturan jarak tanam, pemilihan penaung dan jumlah populasinya, pemilihan jenis teras dsb.
  3. Cara dan jumlah pupuk yang diberikan, harus cukup dan berimbang.

 

PENGENDALIAN OPT DENGAN PENGGUNAAN BAHAN TANAM TAHAN

Pengendalian merupakan salah satu cara menekan OPT yang dapat dilakukan dengan beberapa cara secara terpadu, yaitu meliputi tindakan kultur teknis, pemupukan berimbang, penanaman bahan tanam tahan, dan penggunaan pestisida. Menurut Semangun (1990), selain beberapa upaya tersebut, dalam upaya pengendalian secara nasional diperlukan tindakan karantina untuk mencegah masuknya ras/strain baru dari negara lain, atau dari pulau lain di wilayah Indonesia.

Dibanding dengan cara pengendalian lain, pengendalian tanaman kopi meggunakan pestisida sampai saat ini paling banyak dilakukan (Pusposendjojo, 1990). Padahal penggunaan pestisida secara terus-menerus mengakibatkan timbulnya resistensi. Pemupukan dalam jumlah cukup dan berimbang dan pemberian kondisi lingkungan yang optimal serta penggunaan bahan tanam unggul lebih jarang dilakukan sebagai suatu cara pengendalian OPT. Kondisi semacam inilah yang akhirnya memacu timbulnya serangan hama-penyakit. Hal ini karena tanaman dalam kondisi lapar, kondisi lingkungan kurang nyaman, sehingga tanaman menjadi lemah (Cambrony, 1992). Tanaman kopi menjadi lebih mudah terserang hama-penyakit, meskipun semula merupakan varietas/klon tahan.

Sampai saat ini belum semua varietas/klon anjuran yang tersedia mampu mengatasi hama-penyakit kopi. Namun beberapa varietas anjuran diketahui memiliki sifat ketahanan terhadap hama penhakit tertentu, seperti tercantum dalam daftar di bawah ini.

 

Tabel 1. Beberapa Varietas/klon kopi dengan sifat ketahanannya tehadap hama-penyakit penting.

 

No.

Varietas/klon kopi

Sifat ketahanan

1.

S 795 (arabika)

Agak tahan serangan jamur penyebab penyakit karat daun (HV)

2.

Andungsari 1 (arabika)

Agak tahan serangan jamur penyebab penyakit karat daun (HV)

3.

BP-LTA77-6 (arabika)

Tahan serangan penyakit karat daun (HV)

4.

Klon BP 416 A (arabika)

Tahan serangan penyakit karat daun (HV)

5.

Klon BP 308 (robusta)

Tahan serangan nematoda Pratylenchus sp. Dan Radopholus similis

6.

BP 542 A (arabika)

Tahan serangan nematoda Radopholus similis

7.

Excelsa (beberapa nomer tertentu)

Tahan serangan nematoda parasit

8.

Klon robusta seri BGN (tertentu)

Tahan serangan bubuk buah kopi

SIFAT-SIFAT MORFOLOGI PENTING DALAM MENGENALI VARIETAS/KLON KOPI UNGGUL

 

Sebagai dasar untuk mengenali varietas atau klon kopi, diperlukan pengetahuan tentang sifat morfologi yang dibagi menjadi bagian organ vegetatif dan generatif. Organ vegetatif meliputi tajuk, batang, cabang, dan daun, sedangkan organ generatif meliputi bunga, buah, dan biji. Tidak semua bagian organ tanaman digunakan sebagai pembeda antar varietas dan klon kopi. Bahkan setiap bagian organ yang digunakan sebagai pembeda tersebut harus sering muncul atau relatif stabil untuk kondisi lingkungan berbeda. Oleh sebab itu apabila dirangkum, penciri morfologi yang digunakan sebagai pembeda suatu varietas atau klon kopi harus memenuhi syarat sebagai berikut :

* Organ tanaman tersebut harus dapat dilihat secara langsung tanpa harus merusak bagian tanaman yang akan dicandera.

* Karakter yang dilihat pada organ tersebut sering muncul kembali pada beberapa kondisi lingkungan berbeda.

* Sifat organ tersebut diduga merupakan sifat genetik yang teramati melalui sifat fenotipiknya.

Adapun organ tanaman yang dimaksud adalah :

Tipe pertumbuhan/perawakan/habitus, tinggi tanaman, diameter tajuk, sifat percabangan, sifat daun, sifat buah, sifat biji, perhiasan daun, perhiasan buah, umur pertama berbunga, lama waktu berbunga sampai buah masak petik dan sifat saat berbunga, dan reaksi ketahanan terhadap hama-penyakit utama.

Dalam rangka mengenali penciri suatu varietas/klon kopi untuk keperluan yang lebih spesifik, misalnya untuk keperluan pemurnian kebun entres serta pemurnian kebun benih, diperlukan suatu kemampuan untuk membedakan antara klon/varietas kopi yang dianjurkan dengan yang tidak dianjurkan.

MENGENAL BEBERAPA VARIETAS ANJURAN KOPI ARABIKA DIBANDING VARIETAS KOPI ARABIKA BUKAN ANJURAN

Kopi arabika mempunyai banyak varietas, akan tetapi yang pertama kali banyak dibudidayakan adalah typica. Sejak masuknya penyakit karat daun di Indonesia, varietas tersebut hanya mampu bertahan ditanam pada ketinggian di atas 1000 m dpl. dengan produktivitas yang sangat rendah. Beberapa varietas kopi arabika atau yang termasuk golongan arabikoid yang mudah dikenali karena memiliki perbedaan sifat morfologi cukup menonjol :

  • Mokka  : tanaman kecil, pendek, daun dan buah kecil
  • Cattura : tanaman pendek (katai), ruas pendek, ukuran daun dan buah normal
  • Maragogipe        : daun, buah dan bijinya besar, internodia panjang
  • Typica   : daun sempit memanjang, kerapatan daun jarang, buah besar memanjang, rentan penyakit karat daun, citarasa baik

Berawal dari varietas dasar tersebut kemudian dilakukan seleksi dan persilangan buatan maupun terjadi persilangan alami diantaranya sehingga menghasilkan bastar-bastar baru yang kemudian menjadi varietas anjuran di beberapa negara penghasil kopi dunia, seperti lini S dari India, Catimor dari Portugal, Mundo Novo, Bourbon, Kent, Cavimor, Sarchimor, Villa Sarchi, Dilla Algae, Geisha, Icatu, dan USDA.

Di Indonesia sampai dengan tahun 1975 varietas-varietas kopi arabika yang sempat didatangkan dari luar negeri sebagai pengganti varietas typica adalah Lini-lini S (S 288, S 333, S 795 dan S 1934), USDA (USDA 731, USDA 762, USDA 765 dll.), Caturra merah dan Caturra kuning. Berdasarkan hasil seleksi dan pengujian, akhirnya dilepas beberapa varietas anjuran kopi arabika, yaitu Abesinia 3, S 795, USDA 762, Kartika 1, Katika 2, dan Andungsari 1.

Untuk membedakan antara varietas anjuran dengan varietas bukan anjuran, dalam tabel 2 diuraikan serba ringkas perbedaan pokok antara varietas anjuran dengan bukan anjuran.

Tabel 2. Perbedaan sifat morfologi yang menonjol antara varietas kopi arabika anjuran dengan bukan anjuran.

Sifat Morfologi :

Varietas

Abesinia 3

BLP

Typica bukan anjuran

Tipe pertumbuhan

Tinggi melebar

Tinggi ramping

Tinggi ramping daun jarang

Buah

Bentuk panjang bersegi

Bentuk bulat memanjang

Bentuk bulat memanjang

Ketahanan terhadap karat daun

Agak rentan

Rentan

Rentan

 

Sifat Morfologi :

Varietas

USDA 762

USDA 731

USDA bukan anjuran

Tipe pertumbuhan

Tinggi, tajuk teratur

Tinggi, tajuk teratur

Tinggi melebar

Buah

Membulat, warna merah hati, berjanggut panjang, masak serempak

Membulat, warna merah kekuningan, berjanggut pendek, masak serempak

Membulat, warna merah hati, berjanggut pendek, masak serempak

Ketahanan terhadap karat daun

Agak tahan

Agak rentan

Rentan

 

Sifat Morfologi :

Varietas

Kartika 1 & 2

Andungsari 1

Catimor bukan anjuran

Tipe pertumbuhan

Katai

Semi katai

Katai – semi katai

Buah

Membulat, masak serempak

Oval memanjang, masak tidak serempak

Beragam dari membulat sampai oval

Daun

Hijau tua kaku

Hijau muda lebar dan lemas

Daun beragam mulai kecil sampai lebar kaku

Ketahanan terhadap karat daun

Agak rentan

Agak tahan

Beragam mulai rentan sampai tahan

 

Sifat Morfologi :

Varietas

S 795

S 1934

Lini S lain

Tipe pertumbuhan

Tinggi kompak, rimbun batang tidak tampak dari luar

Tinggi kompak, sangat rimbun dan cabang ruwet

Tinggi kompak, rimbun batang tidak tampak dari luar

Buah

Kelebatan sedang, persentase biji cacat rendah

Sangat lebat, persentase biji cacat tinggi

Beragam dari kurang lebat sampai lebat, biji cacat sedang

Daun

Daun berukuran sedang

Daun berukuran kecil, hijau tua

Daun berukuran lebar, kaku atau sangat kecil

Ketahanan terhadap karat daun

Agak tahan

Tahan

Rentan

 

MENGENAL BEBERAPA KLON ANJURAN KOPI ROBUSTA DIBANDING KLON KOPI ROBUSTA BUKAN ANJURAN

 Berbeda dengan kopi arabika, kopi robusta mempunyai tajuk lebih besar dengan ukuran daun lebih lebar dan besar serta kaku. Adapun beberapa klon kopi robusta yang telah dianjurkan adalah : BP 42, BP 234, BP 288, BP 358, BP 409, SA 237 dan BP 436, BP 534, BP 920, BP 936, BP 939 dan SA 203.

Untuk membedakan antara klon-klon anjuran, dalam tabel 3 diuraikan serba ringkas perbedaan pokok antara klon-klon tersebut, sebagai berikut :

Sifat Morfologi :

Klon kopi robusta

BP 42

BP 234

BP 288

Tipe pertumbuhan

Habitus sedang

Habitus ramping

Habitus ramping

Buah

Berukuran besar, dompolan rapat bersegi

Berukuran kecil, tidak seragam, diskus kecil

Berukuran kecil, diskus bercincin

Percabangan

Mendatar, ruas pendek

Cabang panjang, ruas panjang

Cabang lentur, ruas panjang

 

Sifat Morfologi :

Klon kopi robusta

BP 358

BP 409

SA 237

Tipe pertumbuhan

Habitus agak besar

Habitus besar

Habitus sangat besar, melebar

Buah

Berukuran agak besar, masak merah kekuningan

Berukuran sedang berbentuk memanjang, diskus meruncing

Berukuran agak kecil, diskus kecil

Percabangan

Agak lentur, ruas memanjang

Kokoh kuat, ruas agak panjang

Kokoh kuat ruas panjang

 

 

Sumber : Dr.Ir. Retno Hulupi, SU. Bahan Tanam Unggul Kopi. Puslitkoka Indonesia.

LAST_UPDATED2
 
Joomla Templates by JoomlaVision.com